<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4560282665706213002</id><updated>2012-02-16T17:15:36.570-08:00</updated><title type='text'>Arif Pribadi Private Room's</title><subtitle type='html'>Sebuah ruang pribadi tentang kecintaan akan dunia fotografi dan kekaguman terhadap keunikan manusia</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://ceritalensa.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritalensa.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Portraits and Photo Story</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14863786762209787106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>33</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4560282665706213002.post-5801153524307159760</id><published>2008-02-11T03:37:00.000-08:00</published><updated>2008-02-11T03:42:07.286-08:00</updated><title type='text'>WORO-WORO, PERHATIAN, ATTENTION PLEASE...!!!</title><content type='html'>Mengurusi banyak blog bikin saya pusing. Kadang malah sudah susah-susah bikin blog, tapi posting tulisan saja nggak pernah. Ya gitu deh, blognya dibiarin kosong melompong. Supaya nggak dibilang kemaruk, maka saya berinisiatif untuk mengurusi satu blog saja. Kalau nggak keberatan, silahkan mampir kerumah saya yang baru :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://arifpribadi.blogdetik.com/"&gt;http://arifpribadi.blogdetik.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silahkan masuk, nggak usah malu-malu...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4560282665706213002-5801153524307159760?l=ceritalensa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritalensa.blogspot.com/feeds/5801153524307159760/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4560282665706213002&amp;postID=5801153524307159760&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/5801153524307159760'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/5801153524307159760'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritalensa.blogspot.com/2008/02/woro-woro-perhatian-attention-please.html' title='WORO-WORO, PERHATIAN, ATTENTION PLEASE...!!!'/><author><name>Portraits and Photo Story</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14863786762209787106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4560282665706213002.post-8338950206313413597</id><published>2008-01-20T00:55:00.000-08:00</published><updated>2008-01-20T00:57:32.377-08:00</updated><title type='text'>[Basa-Basi]: Elite-nya Tahu Tempe</title><content type='html'>Siapa bilang tahu-tempe makanan orang kampung? Buktinya sekarang banyak orang yang mengeluh karena susahnya mencari makanan yang berbahan dasar kedelai itu. Dua personil AB Three yang datang bersama suaminya di acara Empat Mata bahkan terang-terangan mengaku kangen dengan makanan yang sudah sulit dicari di Jakarta itu. Dan beberapa kawan saya juga suka nyindir, "Baru kali ini saya lihat pengusaha tahu-tempe dan pedagang-pedagangnya melakukan aksi demo. Khan biasanya yang suka ribut-ribut demo, mahasiswa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan saya yang perawakannya kurus dengan rambut gondrong punya pendapat lain lagi. "Tahu-tempe itu dari dulu makanan mahal. Buka cuma itu, tahu-tempe juga makanan yang bisa bikin orang sukses. Buktinya Pak Harto yang sejak kecil hobi banget makan tahu-tempe bisa jadi Presiden sampai 32 tahun," katanya serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri dari dulu juga ngefans sama tempe. Dibandingkan tahu, saya lebih condong ke tempe yang teksturenya kasar dan bentuknya padat. Saya kurang suka saja dengan tahu, yang lembek, basah, dan sangat tidak bergairah. Kadang-kadang saya juga heran sendiri, kenapa ketika ada orang yang mentalnya sedang down, selalu disebut mental tempe. Kenapa nggak mental tahu aja yang jelas-jelas lebih lembek dan tidak bergairah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oalah mas-mas, mau tempe kek, mau tahu kek, sama aja kalo dicelup air juga lembek, nggak tahan. Coba daging, biar dimasukin air, kalau bukan air panas ya nggak bakalan empuk. Makanya disebut mental tempe, masa gitu aja nggak tau sich," ujar temen saya yang kepalanya botak tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu khan kalau dicelup air. Coba kalau nggak dicelup, pasti tempe juga nggak kalah atosnya sama daging," jawab saya nggak mau kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi yang pasti, berkat harga kedelai yang sekarang melangit, saya juga merasa kehilangan dengan menurunnya kualitas tahu-tempe yang sekarang dijual. Makanan ini sekarang, sudah tuipiiiisss, juga lumayan mahal. Saya jadi heran, kalau denger lagunya Koes Plus, bukannya negara kita ini negara yang suburnya minta ampun. Kayu saja kalau ditanam "katanya" bisa jadi tanaman, tapi kok masalah kedelai saja harus impor dari Amerika. Konon kabarnya, harga kedelai impor dari negaranya si-Bush jauh lebih murah dari kedelainya orang Indonesia. Makanya para petani kita males nanam kedelai, karena harga jualnya kalah bersaing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kalau akar permasalahan dari langkanya kedelai ini sudah ditemukan, saya sangat berharap pemerintah segera mengambil tindakan. Tindakannya seperti apa, tentu bukan urusan saya. Karena sebagai warga negara yang baik dan membayar pajak, saya sudah menggaji Menteri Perdagangan untuk mengurusi masalah ini. Sebagai negara yang di era Soeharto disebut dengan lantang sebagai negara Agraris, saya malu kalau urusan tahu-tempe saja sampai ada yang berdemo di Istana Negara.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4560282665706213002-8338950206313413597?l=ceritalensa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritalensa.blogspot.com/feeds/8338950206313413597/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4560282665706213002&amp;postID=8338950206313413597&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/8338950206313413597'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/8338950206313413597'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritalensa.blogspot.com/2008/01/basa-basi-elite-nya-tahu-tempe.html' title='[Basa-Basi]: Elite-nya Tahu Tempe'/><author><name>Portraits and Photo Story</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14863786762209787106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4560282665706213002.post-8134551181793907338</id><published>2008-01-18T05:48:00.000-08:00</published><updated>2008-01-18T06:11:22.698-08:00</updated><title type='text'>[Basa-Basi]: Asiknya Jadi Bangsa Bar-Bar</title><content type='html'>Baru-baru ini saya menyaksikan sebuah tayangan yang sangat mengasikkan disebuah stasiun televisi. Sepakbola yang seharusnya menjadi ajang pertarungan dua tim yang kemenangannya dibuktikan dengan masuknya bola ke gawang lawan, berubah total menjadi ajang smackdown tanpa ring. Yang jadi korban kekerasan juga macem-macem. Ada wasit yang terkapar dipukuli supporter tim yang tidak terima dengan keputusan si-wasit, ada juga kipper yang tiba-tiba ngamuk dengan pemain lawan karena gawangnya dibobol. Lucu, dan sangat menghibur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam setiap permainan, selalu ada peraturan. Seandainya pertandingan itu berjalan sesuai dengan koridor peraturan, tentu semuanya akan berjalan lancar. Tapi sayangnya, kadang-kadang saat peraturan itu sudah ditegakkan dengan benar, ada juga pihak-pihak (yang tidak bertanggung jawab) memperkeruh suasana yang sudah kondusif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dilapangan hijau, sangat susah kita membedakan mana supporter yang datang atas nama bola, dengan supporter yang datang kelapangan atas nama hura-hura. Parahnya, supporter yang niat awalnya memang menikmati pertandingan, gampang sekali terpancing emosinya dengan supporter yang dari awal niatnya hanya untuk hura-hura. Hura-hura sendiri banyak macamnya. Hura-hura seperti menikmati teriakan-teriakan dan yel-yel yang bergema sepanjang pertandingan, sampai hura-hura yang arahnya anarkis seperti membakar tribune, atau bahkan membakar gawang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah inilah potret dari masyarakat kita. Senang atau bahkan bangga saat bisa menyakiti orang lain. Tidak peduli apakah yang menjadi korban menangis, rugi jutaan rupiah, atau bahkan kehilangan nyawa. Dan sikap bar-bar ini diwujudkan dengan cara beramai-ramai, main keroyok, dan tawuran. Andai saja semangat bar-bar ini diwujudkan diarena gulat yang dipertandingkan di SEA GAMES misalnya. Atau orang-orang yang hobinya tawuran itu dilatih sedemikian rupa, digembleng dengan benar oleh pelatih professional yang mumpuni, pasti memunculkan Chris John, Chris John yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sayang sungguh disayang, belum ada yang berminat untuk menjadi atlit beladiri dan mengharumkan nama bangsa. Kelihatannya mereka lebih senang melakukan sesuatu beramai-ramai. Sekali lagi, andai saja ada even tawuran yang diperlombakan, pasti akan banyak pesertanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4560282665706213002-8134551181793907338?l=ceritalensa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritalensa.blogspot.com/feeds/8134551181793907338/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4560282665706213002&amp;postID=8134551181793907338&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/8134551181793907338'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/8134551181793907338'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritalensa.blogspot.com/2008/01/basa-basi-asiknya-jadi-bangsa-bar-bar.html' title='[Basa-Basi]: Asiknya Jadi Bangsa Bar-Bar'/><author><name>Portraits and Photo Story</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14863786762209787106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4560282665706213002.post-875845376152475826</id><published>2007-12-29T09:49:00.000-08:00</published><updated>2007-12-29T11:13:00.572-08:00</updated><title type='text'>[Basa-Basi]: Resolusi Tahun Baru</title><content type='html'>Tahun Baru 2008 tinggal menghitung hari saja. Dan seperti biasa, ritual yang selalu dilakukan oleh orang kebanyakan adalah menyusun resolusi untuk tahun depan. Flashback sedikit demi sedikit untuk melihat apa-apa saja yang gagal ditahun ini, dan apa-apa saja yang menjadi keberhasilan kita. Beberapa kawan saya malah beresolusi untuk menikah tahun depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri sampai tulisan ini saya ketik, belum memiliki resolusi yang tepat untuk diwujudkan tahun depan. Terlalu banyak yang saya inginkan. Tapi setidaknya, saya memiliki cita-cita, setiap bulannya ada hal sukses yang bisa saya capai. Tapi saya ini orangnya terlalu besar dalam bercita-cita, tapi minim dalam hal perwujudan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun lalu saya punya resolusi, kepingin sekali bikin pameran foto tunggal. Tapi sampai detik ini juga, saya belum memamerkan satu buah foto-pun. Alasannya macam-macam, karena : dana, kurang pede mempublikasikan, sampai alasan males…!!! Nah, problemnya, saya susah sekali mengatasi masalah males ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Repotnya, saya selalu saja memiliki alasan untuk memperhalus rasa males saya. Contohnya, saya sudah punya sederet data buat artikel dikoran. Tugas saya tinggal menyusun dan mengirimnya ke redaksi harian yang saya tuju. Tapi dasar saya orangnya malas, ada saja alasan yang bisa menggagalkan acara tulis-menulis artikel tersebut. “Yah…namanya juga penulis, pasti nunggu mood dong,” kata saya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sederet alasan lain yang muncul biasanya: Ngantuk yang bisa bikin nulis nggak konsen, badan pegel-pegel habis motret seharian jadi lebih enak tidur daripada bikin artikel, atau…. Haduh, banyak pokoknya (lagian sekarang saya sedang malas menjelaskan kemalasan saya. Hahaha… )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi alasan saya ada benarnya bukan? Bagaimana bisa seorang penulis menghasilkan karya yang berkualitas jika moodnya sedang jelek?&lt;br /&gt;“Halah… itu khan cuman alasan sampeyan aja. Saya tahu dari orok juga sampeyan orangnya males. Buktinya sampeyan lahir sembilan bulan duabelas hari. Pasti gara-gara sampeyan males keluar dari rahim bukan?” kata kawan saya yang kulitnya putiiiiih banget. Gimana nggak putih coba kalau dia-nya Albino.&lt;br /&gt;“Lho lho, emangnya kamu tahu kapan saya lahir? Ngoceh aja kamu!” kata saya sedikit marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kemalasan adalah hal yang sangat membebani saya ditahun 2007 ini, berarti tahun depan resolusi saya adalah: Memberantas Kemalasan Diri. Ya, ini adalah cita-cita saya yang harus saya wujudkan. Sukses apa nggaknya memang tergantung dari diri saya sendiri. Tapi tahu sendiri khan sifat saya, kalau punya cita-cita, konsepnya selalu luar biasa, tapi implementasinya…nol besar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya sampeyan memang cara berpikirnya persis kayak murid TK nol besar. Isinya main melulu. Giliran disuruh belajar pasti ngambek. Persis kayak sampeyan yang pemalas,” kata kawan saya yang kulitnya putih tadi sewot.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4560282665706213002-875845376152475826?l=ceritalensa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritalensa.blogspot.com/feeds/875845376152475826/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4560282665706213002&amp;postID=875845376152475826&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/875845376152475826'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/875845376152475826'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritalensa.blogspot.com/2007/12/basa-basi-resolusi-tahun-baru.html' title='[Basa-Basi]: Resolusi Tahun Baru'/><author><name>Portraits and Photo Story</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14863786762209787106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4560282665706213002.post-2187007463583796536</id><published>2007-12-24T05:30:00.000-08:00</published><updated>2007-12-24T05:36:05.977-08:00</updated><title type='text'>[Basa-Basi]: Sabar!</title><content type='html'>Saya adalah orang yang sangat susah kalau diajak sabar. Jalan Raya adalah tempat untuk menguji kesabaran seseorang. Dan saya sering gagal menghadapi ujian ini, karena saya sering ngumpat-ngumpat nggak jelas dijalan raya, begitu ada orang yang nyetirnya lelet amat. Padahal, saya sudah harus nyampe ke tempat kerja buat siaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malahan, saya pernah hampir berantem sama pejalan kaki gara-gara ketidaksabaran saya. Suatu ketika pas lagi dijalan, tiba-tiba hujan deras turun mendadak. Sementara didepan, motor sama mobil nggak bergerak sama sekali karena diujung ada truk yang lagi mogok. Maksud hati ingin mengambil jalan pintas dengan menaikkan motor saya diatas trotoar, tapi karena jalan licin dan saya hilang keseimbangan, jadilah saya menabrak orang yang sedang asik jalan sambil bawa payung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Matamu ditaruk didengkul apa? Ini khan trotoar, kok seenaknya aja main serobot,” kata bapak-bapak yang saya serempet tadi dengan mata melotot. Sementara tangannya sudah menunjukkan tanda-tanda mau meninju saya.&lt;br /&gt;“Lho tadi saya nggak ngelihat ada bapak kok. Lagian tadi khan banyak motor yang dinaikkan ke trotoar. Lagi macet juga,” Jawab saya nggak mau kalah.&lt;br /&gt;Untung ada mas-mas yang melerai kita berdua. Dengan perasaan gengsi waktu itu, saya akhirnya meminta maaf. Emang jelas-jelas sayalah yang salah. Tapi dasar saya aja yg gengsinya gede.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ngantri tiket sepak bola lain lagi. Waktu pertandingan gede-gedean di Stadion Tambaksari Surabaya antara Persebaya dengan Arema, saya yang sejak lahir dianugerahi perasaan tidak sabar, nekat beli tiket dicalo biar lebih cepet. Apalagi disekitar saya sudah ada ribuan fanatis bola yang juga nganteri dengan aroma badan yang bermacam-macam. Ada yang baunya kayak ikan asin, ada yang baunya wangi, tapi wangi-wangi keringet gitu, sampai ada yang nekat buka baju padahal bulu keteknya menjulur kemana-mana (serem…). Alhasil tiket yang seharusnya dibandrol dengan harga 10 ribu rupiah, naik tiga kali lipat jadi 30 ribu. Dasar saya orangnya nggak mau sabar dikiiiit aja buat ngantri tiket, mau aja beli barang mahal itu dicalo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, tau nggak sich kalau beli dicalo itu justru merugikan Persebaya. Karena uangnya nggak masuk dikas pengurus, tapi ke kantongnya calo,” sahut temen saya yang badannya gemuk, item, dan hobinya nonton bola.&lt;br /&gt;“Iya tahu, tapi gimana lagi, masa saya harus berdesak-desakan dengan wajah-wajah beringas haus gol itu sich?” jawab saya asal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itulah saya, kata sabar sepertinya menjadi hal langka dalam kamus hidup saya. Kadang-kadang saya iri dengan fotografer-fotografer wildlife yang bisa sabar berbulan-bulan nungguin anak ayam keluar dari cangkang telurnya. Saya juga sering iri sama mantan guru-guru saya, terutama guru-guru TK. Kok ya sabar sampai saya sudah segede Gaban gini masih aja ngajar balita. Apa nggak ada keinginan buat naik pangkat menjadi guru SD gitu.&lt;br /&gt;“Wah kayaknya sampeyan emang bukan orang yang sabar deh mas. Sampai-sampai mulut sampeyan nggak sabar ngomong duluan, padahal otaknya belum mikir. Guru TK ya guru TK, guru SD ya guru SD, nggak ada ceritanya guru TK trus ngajar jadi guru SD itu naik pangkat. Bodo kok dipelihara,” jawab temen saya yang gembrot tadi sewot sambil mulutnya maju-maju.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4560282665706213002-2187007463583796536?l=ceritalensa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritalensa.blogspot.com/feeds/2187007463583796536/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4560282665706213002&amp;postID=2187007463583796536&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/2187007463583796536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/2187007463583796536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritalensa.blogspot.com/2007/12/basa-basi-sabar.html' title='[Basa-Basi]: Sabar!'/><author><name>Portraits and Photo Story</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14863786762209787106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4560282665706213002.post-1861016266090382225</id><published>2007-12-21T09:52:00.000-08:00</published><updated>2007-12-23T04:45:27.325-08:00</updated><title type='text'>[Basa-Basi]: Standar Kehidupan Kita Berbeda</title><content type='html'>Saya tertegun, ketika mata ini menemukan sesosok pria tua yang sedang enjoy dipojokan sebuah toko. Sambil duduk diemperan sebuah toko yang kebetulan tutup itu, pria tua yang saya taksir usianya sekitar 70 tahunan, sedang asik menikmati krupuk. Bukan krupuk yang dibungkus dalam paket plastik dan memiliki bermacam-macam rasa seperti: udang, ikan, dll, tapi krupuk putih biasa yang satu bijinya sekitar dua ratus rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sangat menikmati pemandangan itu. Sebuah ekspresi yang sangat sulit saya temukan bagi siapapun yang memakan krupuk. Saya melihat kenikmatan yang tiada tara, bagaikan menyantap seekor ayam panggang dengan lalapannya. Lahap sekali ia memakan krupuk yang jumlahnya hanya dua biji tergenggam ditangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak ingin mengganggu pria tua itu dengan mendekat dan kemudian bertanya “Kenapa bapak makan krupuknya lahap sekali?” Untuk saat ini saya cuma ingin melihat dari kejahuan saja. Saya jadi ingat kebiasaan waktu kecil dulu. Saya sering ngambek marah-marah ketika ibu saya hanya memasak tahu, tempe, telor, dan sayur lodeh. Padahal, saya sedang ngebet banget makan ayam goreng yang dibumbuhi dengan tepung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu ini maunya makan enak terus. Mbok sekali-kali makan yang kayak gini,” kata ibu saya waktu itu.&lt;br /&gt;“Nggak mau…” jawab saya sambil terus merengek. Bahkan ngambek saya waktu itu bisa seharian nggak mau makan. Padahal ibu saya waktu itu sudah membelikan saya ayam goreng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi pak tua itu, ditengah panasnya matahari Surabaya yang menyengat, disaat perut sudah keroncongan namun uang dikantong tidak cukup untuk membeli nasi bungkus, maka dua buah kerupuk ditambas satu plastik es the manis sudah cukup membuatnya kenyang. Sementara saya dan (mungkin) orang-orang “cukup” lain, memakan tahu-tempe sudah menjadi hal yang menyakitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap manusia memang memiliki ukuran yang berbeda dalam menilai sesuatu. Sesuatu yang tidak mengenakkan bagi saya seperti makan tahu, tempe, telor, dicampur sayur lodeh, mungkin jadi hal yang paling menyenangkan bagi pak tua itu. Mungkin, makan telor hanya bisa dia nikmati pada saat ada rejeki lebih. Padahal rejeki lebih itu belum tentu datang seminggu sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau standar hidup manusia itu berbeda-beda, tapi ada baiknya kita selalu melihat kebawah. Dengan melihat kekurangan orang lain, kita bisa lebih bersyukur atas apa yang sudah Tuhan berikan selama ini. Namun jika kita memiliki cita-cita, tentu kita wajib memandang keatas. Kesuksesan yang didapat orang lain, bisa menjadi motivasi bagi kita untuk lebih semangat berusaha.&lt;br /&gt;“Makanya mas, kalau dikasi makan tahu-tempe itu mbok ya dimakan. Jangan sok-sok an nggak mau. Awas lho ya kalau sampai tahu-tempe itu demo, trus nolak kalau dimakan sampeyan. Huh bisa kolesterol sampeyan karena kebanyakan makan ayam, daging, sama ikan,” kata temen saya yang berkepala botak panjang lebar menasehati saya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4560282665706213002-1861016266090382225?l=ceritalensa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritalensa.blogspot.com/feeds/1861016266090382225/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4560282665706213002&amp;postID=1861016266090382225&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/1861016266090382225'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/1861016266090382225'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritalensa.blogspot.com/2007/12/basa-basi-standar-kehidupan-kita.html' title='[Basa-Basi]: Standar Kehidupan Kita Berbeda'/><author><name>Portraits and Photo Story</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14863786762209787106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4560282665706213002.post-2738363172837321228</id><published>2007-12-21T09:25:00.001-08:00</published><updated>2007-12-23T04:17:00.379-08:00</updated><title type='text'>[Basa-Basi]: Totalitas Wajah</title><content type='html'>Pepatah bijak selalu menasehati kita untuk total dalam menjalani kehidupan dunia yang keras ini. Haram hukumnya ketika kita bersikap setengah-setengah saat mengerjakan sesuatu. Pernah saya mencoba buka usaha pulsa elektrik dengan modal yang setengah-setengah. Mulai dari modalnya yang duikiiitttt banget, sampai tempatnya yang juga nggak niat banget (buka counter dirumah). Alhasil seperti karma dari sang pepatah bijak, usaha pulsa saya ini kandas ditengah jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Polri membuka lowongan taruna dengan embel-embel bebas KKN, saya langsung tertarik ikut. Padahal modal jasmani dan rohani belum saya miliki dengan mantab. Yang ada cuman modal nekat dan setengah-setengah, Diterima syukur, nggak juga gak bakalan nangis Bombay. Hasilnya sudah pasti: “tidak diterima” dan karma dari sang pepatah bijak benar-benar terbukti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang saya tidak sedang membahas totalitas kita dalam meraih sesuatu, tidak juga membahas totalitas kita dalam pekerjaan. Seperti judulnya, saya sangat tertarik berbicara panjang lebar soal totalitas wajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maksudnya apa sih mas?” tanya temen saya yang bibirnya dower mulai penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu saat masih SMA, guru olahraga saya ketika memberikan pengarahan diacara Masa Orientasi Siswa pernah berkata, “Jika kalian ingin dikenang oleh banyak orang disekolah ini, maka kalau jadi siswa, nakal yang nakal sekalian, tapi kalau pinter yang pinter sekalian. Jadi jangan setengah-setengah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat guru olahraga saya ini, selalu ter-ngiang ditelinga dan otak saya. Maka saat saya melihat seorang Tukul Arwana suksesnya bukan main lewat acara empat mata, kemudian saya bandingkan dengan Brad Pitt yang dipuja banyak wanita karena ketampanannya, sejurus kemudian saya berpikir, “Kalau mau ngetop dan sukses jadi artis, kalau ganteng, gantengnya harus ganteng minta ampun kayak Brad Pitt, tapi kalau jelek, jeleknya harus jelek minta ampun kayak si….”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang saya sebut “Totalitas Wajah”. Jangan seperti saya, kalau mau dibilang ganteng juga impossible, karena ibu saya aja sering bilang kalau saya jelek. Tapi kalau dibilang jelek beneran juga nggak mungkin, wong saya punya pacar yang cuantiiikkk bgt (kayak boneka India). Bahkan kita sudah pacaran selama 3 tahun. Berarti nggak mungkin dong dia nggak sadar kalau punya pacar jelek. Bisa jadi dimata pacar saya yang menik-menik (imut-imut, Jawa) itu, saya emang pria yang jelek, tapi punya segudang potensi dan kelebihan yang tidak dimiliki pria ganteng manapun dimuka bumi ini (Cieeee…). Kadang-kadang ibu saya juga bilang saya ganteng, kalau kebetulan saya kasih beberapa lembar uang berwarna merah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ya itu tadi, kalau mau jadi artis bakalan susah suksesnya. Dikasih peran utama sebagai mas-mas yang ganteng berwibawa juga nggak pantes. Salah-salah nanti banyak pemirsa yang protes, “Lho kok pemeran utamanya jelek banget sich?” Tapi kalau suatu saat saya dikasi peran sebagai orang yang teraniaya, seperti jadi mas-mas pembantu yang sering disiksa majikan perempuannya, saya yakin banyak pemirsa yang kasi komentar, “Haduh kasian ya pemeran pembantunya, padahal khan wajahnya nggak cocok jadi pembantu. Cocoknya jadi mas-mas tukang ojek tuh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, karena banyak pemirsa yang bingung dengan wajah saya yang nggak jelas, maka peluang sukses saya tipiiiiiis banget. Kesimpulannya, buat kawan-kawan yang wajahnya membingungkan, kadang kelihatan ganteng kayak Dude Herlino tapi pas ditamat-tamatin mirip banget ama Komeng, mending stop deh casting-casting jadi artis. Lebih baik mengasah bakat terpendam yang lain, seperti: olah vocal, teknik permainan gitar, atau mungkin mengasah bakat dibidang ekonomi jadi pedagang asongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah betul tuh mas, saya aja sekarang sedang giat-giatnya belajar vocal. Khan saya vokalis band rock mas dikampus. Sapa tau band saya ini bisa masuk dapur rekaman dan jadi legendaris kayak Rolling Stones,” kata temen saya tadi.&lt;br /&gt; “Wah bener tuh. Kayaknya kamu pas saingan sama si Mick Jagger. Saingan dowernya, kaleee,” sahut saya sambil ngeloyor pergi ninggalin dia yang bengong sambil garuk-garuk kepala.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4560282665706213002-2738363172837321228?l=ceritalensa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritalensa.blogspot.com/feeds/2738363172837321228/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4560282665706213002&amp;postID=2738363172837321228&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/2738363172837321228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/2738363172837321228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritalensa.blogspot.com/2007/12/basa-basi-totalitas-wajah.html' title='[Basa-Basi]: Totalitas Wajah'/><author><name>Portraits and Photo Story</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14863786762209787106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4560282665706213002.post-5416305712650248216</id><published>2007-12-21T09:23:00.000-08:00</published><updated>2007-12-21T09:24:08.397-08:00</updated><title type='text'>[Basa-Basi]: Ketika Hujan Turun</title><content type='html'>Surabaya terkenal sebagai kota yang suhu udaranya panas sekali. Bahkan ketika saudara saya yang tinggalnya di Bandung bertandang kerumah saya, ia lebih memilih tidur diruang tamu daripada dikamar, karena nggak tahan dengan udaranya yang bisa bikin kita ngeluarin keringat sebesar biji jagung. Panas Surabaya yang siang hari konon kabarnya bisa mencapai 36 derajat Celsius, kadang-kadang membuat saya kangen juga kedatangan hujan. Malah saya pernah berdoa, “Ya Tuhan, pas panas-panas gini, dihujanin dikit-dikit nggak papa dong…” Saking nggak tahannya saya sama panas ketika berada diluar rumah pas njemput pacar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelihatannya Tuhan mendengar doa saya. Hari ini, ketika mata saya melek dari tidur, dan tanda waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi, saya sama sekali tidak merasakan terik matahari. Kepala saya melongok dari balik jendela kamar, dan benar, awan hitam sudah bergelayut disana-sini memenuhi Surabaya. “Asyik…” batin saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betul, beberapa jam kemudian saya mulai mendengar air gemerotokan diatas atap rumah. “Wah ini dia yang dinanti-nanti dari kemaren. Hujan sudah mulai turun nampaknya.” Tiga jam sudah berlalu, waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, tapi air hujan yang dari tadi mengalir dengan deras belum juga menunjukkan tanda-tanda mau berhenti. Padahal, jam enam sore nanti saya harus berangkat ke studio buat siaran. “Aduh. gimana neh?” pikir saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan benar, begitu tanda waktu sudah mengarah ke pukul 17.36 menit, hujan juga belum berkeinginan untuk berhenti. Sampai pada akhirnya saya membuat keputusan untuk memakai celana pendek ke kantor. Maksudnya, karena hujan belum reda, daripada saya maksa pakai celana panjang, trus malah kecipratan sana-sini dijalan, khan lebih baik pakai celana pendek. Tentunya, badan juga sudah dilapisi dengan jas hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata, hujan yang hari ini sudah liar turun dan nggak mau berhenti-berhenti, membuat beberapa jalan di Surabaya sudah seperti sungai saja. Mata saya bahkan menemukan beberapa sosok, anak-anak, tua-muda, malah asik berenang diantara banjir. “Busyet, pada nggak pernah kenal hujan kali ya. Begitu liat hujan turun, semuanya pada pengen maen air aja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, motor buntut saya ini juga kelihatannya pengen berendam lama-lama di air. Saking pengennya, sampai-sampai motor saya ini memilih diam didalam air dari pada melaju mengantarkan saya sampai ke ruang siaran. Ya… motor saya benar-benar mogok. “Sial… ini akibatnya kalau nggak pernah maen air hujan, kena dikit aja maunya mogok melulu,” maki saya dalam hati. Saya benar kesal, 10 menit lagi saya harus masuk ruang siaran, harus cuap-cuap didepan michropone buat nemenin penggemar-penggemar saya yang ada dirumah. Tapi apa mau dikata, hujan yang sudah lama saya tunggu-tunggu agar turun membasahi Surabaya, hari ini benar-benar ngamuk. Mungkin hujannya sudah ngempet berbulan-bulan buat turun ke bawah. Jadi begitu Tuhan kasih lampu hijau karena mendengar doa saya yang kepengen hujan, maka air yang datang buanyaknya minta ampun.&lt;br /&gt; “Haduh, andai saja saya nggak request turun hujan ke Tuhan, pasti nggak begini jadinya,” gumam saya. Sementara tangan saya sekarang, sibuk mencet nomer telepon kantor, minta tolong ke temen-temen supaya ada yang nge-gantiin saya siaran.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4560282665706213002-5416305712650248216?l=ceritalensa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritalensa.blogspot.com/feeds/5416305712650248216/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4560282665706213002&amp;postID=5416305712650248216&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/5416305712650248216'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/5416305712650248216'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritalensa.blogspot.com/2007/12/basa-basi-ketika-hujan-turun.html' title='[Basa-Basi]: Ketika Hujan Turun'/><author><name>Portraits and Photo Story</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14863786762209787106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4560282665706213002.post-8692215607267242886</id><published>2007-12-14T10:27:00.000-08:00</published><updated>2007-12-14T10:28:51.102-08:00</updated><title type='text'>[Basa-Basi]: Mulutmu, Harimaumu</title><content type='html'>Saya sangat senang dengan ungkapan ini. Rasanya sangat pas, mengingat tidak ada orang yang berani memelihara harimau secara terang-terangan. Artinya, meski kita sudah memelihara seekor harimau sejak lahir, bukan berarti ketika dia lapar, si-kucing besar ini tidak bakalan menggigit kita. Dengan kata lain, harimau adalah sosok yang ganas dan kejam, biarpun kita sudah akrab dan lama mengenalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ungkapan “Mulutmu, Harimaumu” diartikan bahwa Mulut kita seganas Harimau yang sewaktu-waktu bisa menerkam diri kita sendiri (seperti senjata makan tuan), maka ada baiknya kita pandai-pandai menjaga mulut. Tapi persoalannya, dipasaran kita tidak bisa menemukan gembok yang bisa mengunci mulut kita, ketika sedang bawel, cerewet, dan menggosipkan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya paling sebel saat bertemu dengan sekelompok orang yang sedang menggunjing atau nggosip. “Eh liat tuh si-M, tiap hari dandanannya sexy, baju-bajunya selalu ketat dan kebuka. Pasti tuh anak simpenannya om-om,” kata kawan kampus saya berapi-api dihadapan pendengar setianya. Batin saya, “Orang pakai baju sexy khan hak asasi manusia, asalkan tidak terlalu sexy yang bisa mengundang syahwat pria yang melihatnya.” Lagian, apakah si-M simpanan om-om atau bukan, khan butuh penelitian lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi dasar orang yang sedang asik ngegosip, asalkan bisa bikin obrolan tambah seru, acara menjelek-jelekkan orang terus berlanjut. Mereka para bigos itu mungkin juga tidak perduli apakah yang digosipkan sakit hati atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah biarlah… Mulutmu, Harimaumu, suatu saat mereka akan termakan omongan mereka sendiri,” kata saya sambil berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda lagi ketika kita memperhatikan mulut orang yang suka mencemooh. Kebetulan saya punya rekan kerja yang hobinya “mengkritik” tindakan orang lain. Mengkritik bukan tanda peduli, tetapi mengkritik karena bawaannya sirik melulu. Suatu saat, ada rekan kerja saya yang lain yang kebetulan telat masuk kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu tuh masuk jam berapa? Mbok ya kira-kira kalau masuk kerja. Emang ini kantornya nenek moyang kamu? Gara-gara kamu telat, terpaksa saya yang banting tulang pagi-pagi begini,” kata si-Comel mulai ngomel-ngomel kasar.&lt;br /&gt;“Maaf mas, saya nggak ngira kalau ditengah jalan bakalan ketemu sama paku. Yah… bocor deh ban mobil saya,” jawab kawan saya yang telat.&lt;br /&gt;“Kamu itu, sudah salah masih aja bisa njawab,” kata si-Comel ketus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa minggu kemudian, saat tanda waktu sudah menunjukkan pukul 09.16 WIB, si-Comel belum kelihatan muncul dikantor. “Lagi sakit mungkin…” kata salah seorang kawan saya. Ternyata sepuluh menit kemudian si-Comel muncul dengan tergesa-gesa. Wajahnya kusut, matanya lebam (tanda-tanda baru bangun tidur), rambutnya acak-acakan, dan bau mulutnya… busyet… bau banget.&lt;br /&gt;“Sori…. saya kesiangan,” katanya dengan malu-malu.&lt;br /&gt;“Telat nih yeee….” jawab rekan kantor saya bebarengan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini, ungkapan “Mulutmu, Harimaumu” terbukti. Kita memang bebas ngomong apa saja, apalagi mulut-mulut kita sendiri. Tapi yang menjadi persoalan adalah, apakah saat kita berbicara, atau mencemooh orang, mulut kita itu tidak melukai perasaan seseorang. Dan yang lebih bahaya adalah, saat orang yang tersinggung dengan perkataan kita mulai mengucapkan mantra-mantra yang mendoakan kita agar tertimpa sesuatu. Termasuk termakan omongan kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lebih enak kayak saya khan mas, punya mulut dipekerjakan. Jadi MC lah, jadi dubber lah, atau jadi vokalis band. Nggak nyakitin perasaan orang, tapi malah menghibur. Betul?” kata kawan saya yang penyiar dengan ungkapan penuh aura ke”narsis”an.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4560282665706213002-8692215607267242886?l=ceritalensa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritalensa.blogspot.com/feeds/8692215607267242886/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4560282665706213002&amp;postID=8692215607267242886&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/8692215607267242886'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/8692215607267242886'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritalensa.blogspot.com/2007/12/basa-basi-mulutmu-harimaumu.html' title='[Basa-Basi]: Mulutmu, Harimaumu'/><author><name>Portraits and Photo Story</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14863786762209787106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4560282665706213002.post-6234058388767381615</id><published>2007-12-14T10:01:00.000-08:00</published><updated>2007-12-14T10:10:03.884-08:00</updated><title type='text'>[Basa-Basi]: Aku Cinta Indonesia… Aku Cinta Batik</title><content type='html'>Kalau masa kecil anda tumbuh di era TVRI, pasti tidak pernah terlewatkan sebuah program acara yang dulu sempat menjadi box office, yakni: Si-Unyil. Saya masih ingat, diprogram acara yang muncul setiap Minggu pagi ini, si-Unyil selalu mengucapkan seruan: ACI… ACI… yang artinya Aku Cinta Indonesia. Boneka tangan ini selalu mengingatkan pemirsanya untuk bangga menjadi orang Indonesia, dan selalu mengingatkan kita untuk cinta tanah air Indonesia yang kekayaan alamnya melimpah ruah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cintakah anda dengan Indonesia?&lt;br /&gt;“Ya cinta dong mas, buktinya saya masih betah tinggal dinegeri ini biar korupsinya merajalela,” kata kawan saya yang berperawakan kurus.&lt;br /&gt;“Itu sich bukan cinta, tapi terpaksa tinggal di Indonesia. Terpaksa karena nggak ada modal buat eksodus ke luar negeri. Betul khan?” jawab saya seenaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini banyak orang yang mengaku cinta Indonesia, tapi kecintaan mereka hanya sebatas kata-kata yang lembut dibibir saja. Bayangkan, kita sulit sekali menemukan anak muda yang berani tampil modis dengan baju yang bermotif batik. Memang batik identik dengan pakaian yang formal, tapi toh sekarang banyak kain batik yang sudah dirancang menjadi pakaian casual dan modern. Sama seperti baju-baju modis lainnya, tapi bahan dasarnya tetap kain batik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih ingat ketika acara pemilihan wakil Indonesia di Asian Idol. Ketika si-MC Daniel Manatta berkomentar, “Kita beri tepuk tangan untuk Anang (suaminya KD) yang selalu setia dengan baju batiknya.” Saya sama sekali tidak mendengar suara riuh tepuk tangan penonton dari speaker TV. Entah orang males memberi tepuk tangan untuk Anang yang notabene nggak seberapa ganteng, atau mungkin pikir mereka disana: “Buat apa kasi tepuk tangan buat orang yang pakai batik. Huh, ndeso…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui image batik adalah baju formal, yang pantesnya digunakan oleh orang-orang yang sudah berkumis, berperut buncit, dan sudah punya momongan. Rasa-rasanya, kalau anak muda pakai batik seperti wong ndeso, orang yang ketinggalan jaman dan nggak tau mode. Bahkan diacara formal seperti resepsi pernikahan-pun, kadang orang masih males pakai batik karena selain kurang keren, juga karena memang nggak punya baju batik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh udah kayak bapak-bapak aja nih pake batik,” kata seorang kawan yang memberi komentar gaya dandan saya ketika bertemu disuatu acara pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Batik diklaim menjadi milik Malaysia, banyak orang yang berkomentar pedas: “Haduh Malaysia ini bener-bener bangsa pencuri, nggak pulau, nggak batik, semua diklaim jadi miliknya.” Semua berkomentar pedas, nggak yang tua nggak yang muda. Tapi pada gilirannya mereka (terutama) yang muda-muda disuruh tampil didepan publik menggunakan batik, malunya minta ampun. Takut dibilang ndesolah, takut dibilang katroklah, sampai takut dibilang ketuaan kayak bapak-bapak. Kalau orang Malaysia (baik yang tua atau yang muda) ternyata bangga kemana-mana pakai batik, lantas siapa yang “salah” dalam persoalan ini?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4560282665706213002-6234058388767381615?l=ceritalensa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritalensa.blogspot.com/feeds/6234058388767381615/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4560282665706213002&amp;postID=6234058388767381615&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/6234058388767381615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/6234058388767381615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritalensa.blogspot.com/2007/12/basa-basi-aku-cinta-indonesia-aku-cinta_14.html' title='[Basa-Basi]: Aku Cinta Indonesia… Aku Cinta Batik'/><author><name>Portraits and Photo Story</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14863786762209787106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4560282665706213002.post-1871942122183437000</id><published>2007-12-06T11:30:00.000-08:00</published><updated>2007-12-06T11:31:50.285-08:00</updated><title type='text'>[Basa-Basi]: Harap Maklum, Khan Indonesia!!!</title><content type='html'>Beberapa hari ini, hujan mulai mengguyur Surabaya. Seperti biasa, bagi para petani hujan menjadi berkah karena sudah berbulan-bulan sawah mereka kering. Tapi bagi sebagian orang, hujan yang turun pada situasi yang tidak tepat, sering menjadi masalah. Misalnya, hujan turun saat kita akan berangkat kerja. Sehari-dua hari telat ke kantor karena hujan mungkin bukan masalah besar. Biasanya rekan kerja yang juga sama-sama kehujanan, akan memaklumi alasan kita. Tapi sayangnya, ada beberapa oknum yang memanfaatkan hujan sebagai kambing hitam atas tindakan illegal mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sori mas, dirumah lagi ujan deres. Jadi telat deh…,” kata rekan kerja saya yang sudah tiga hari  berturut-turut telat ngantor.&lt;br /&gt;“Hah…hujan? Bukannya sudah berhenti sejam yang lalu?” tanya saya.&lt;br /&gt;“Iya mas sudah berhenti emang, tapi banjirnya masih ketinggalan,” jawabnya nggak mau kalah.&lt;br /&gt;Tiba-tiba rekan kerja saya yang lain menimpali, “Sudah mas, harap maklum, namanya juga hujan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telat tiga hari berturut-turut kok harap maklum?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pertengahan bulan puasa, saat masih kuliah dulu, panas yang luar biasa membuat saya memutuskan singgah ke kantin. Disana saya liat beberapa kawan saya sedang asik ngobrol. Sementara yang lainnya ada yang sibuk main catur, sms-an sendiri, sampai ada yang menggelepar lemas dipojokan. Tapi emosi saya terpancing ketika melihat sesosok berambut kribo sedang asik menikmati mie rebus ditemani sebotol teh dingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Busyet…,” batin saya. Sejurus kemudian saya ngomel-ngomel disamping temen saya yang lain.&lt;br /&gt;“Liat tuh si Kribo, orang pada lemes puasa eh dia malah asik makan didepan kita-kita. Nggak tau adat banget sich,” kata saya sedikit nyolot.&lt;br /&gt;“ Sudah lah mas harap maklum saja, sapa tau anaknya ndak sahur tadi malem, jadi puasanya bolong deh,” sahut kawan saya yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harap maklum? Perasaan saya nggak pernah liat si-Kribo puasa deh?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita terlalu sering memaklumi hal-hal yang tidak seharusnya ditoleransi. Saat ada pejabat yang korup, kita cuma bisa bilang, “Harap Maklum, namanya juga pejabat.” Sementara diluar sana banyak rakyat yang menanggung dosa mereka dengan menderita kelaparan. Bahkan beberapa anak terpaksa tidak bersekolah, karena harga pendidikan yang sangat mahal. Padahal urusan kelaparan, pendidikan, sampai kesejahteraan, merupakan tanggung jawab pejabat, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seorang artis ternama kedapatan membawa narkoba, kita cuma bisa berkata, “Harap maklum, namanya juga artis.” Seharusnya, siapapun yang menjadi pengikut setan, baik pemakai atau pengedar narkoba, harus kita cemooh. Selain itu, hukum-pun seharusnya bertindak adil tanpa pandang bulu, entah itu artis, entah itu orang miskin, atau tukang becak sekalipun. Tapi, ya itu tadi… kita terlalu baik sebagai sebuah bangsa. Secara positif sikap baik dan memaklumi itu menandakan kita bangsa yang berpositif thinking dan mudah memberikan maaf. Tapi disisi lain, sikap harap maklum akan membuat beberapa oknum seperti mendapat angin. Tidak takut melakukan kejahatan, atau tindakan illegal, karena masyarakat kita pasti mudah memakluminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya, “Aduh maklum lah, namanya juga orang miskin. Kalau kebutuhan hidup meningkat, sementara pekerjaan nggak punya, ya mau apa lagi kalau nggak mencuri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangsa kita memang bangsa yang nerimo. Sangking nerimonya, sampai-sampai nggak tahu mana yang baik mana yang buruk, mana yang salah mana yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harap maklum lah, namanya juga Indonesia.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4560282665706213002-1871942122183437000?l=ceritalensa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritalensa.blogspot.com/feeds/1871942122183437000/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4560282665706213002&amp;postID=1871942122183437000&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/1871942122183437000'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/1871942122183437000'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritalensa.blogspot.com/2007/12/basa-basi-harap-maklum-khan-indonesia.html' title='[Basa-Basi]: Harap Maklum, Khan Indonesia!!!'/><author><name>Portraits and Photo Story</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14863786762209787106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4560282665706213002.post-5420572435760714250</id><published>2007-12-06T11:24:00.000-08:00</published><updated>2007-12-06T11:28:31.512-08:00</updated><title type='text'>[Basa-Basi]: Aku Cinta Indonesia… Aku Cinta Batik...</title><content type='html'>Kalau masa kecil anda tumbuh di era TVRI, pasti tidak pernah terlewatkan sebuah program acara yang dulu sempat menjadi box office, yakni: Si-Unyil. Saya masih ingat, diprogram acara yang muncul setiap Minggu pagi ini, si-Unyil selalu mengucapkan seruan: ACI… ACI… yang artinya Aku Cinta Indonesia. Boneka tangan ini selalu mengingatkan pemirsanya untuk bangga menjadi orang Indonesia, dan selalu mengingatkan kita untuk cinta tanah air Indonesia yang kekayaan alamnya melimpah ruah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cintakah anda dengan Indonesia?&lt;br /&gt;“Ya cinta dong mas, buktinya saya masih betah tinggal dinegeri ini biar korupsinya merajalela,” kata kawan saya yang berperawakan kurus.&lt;br /&gt;“Itu sich bukan cinta, tapi terpaksa tinggal di Indonesia. Terpaksa karena nggak ada modal buat eksodus ke luar negeri. Betul khan?” jawab saya seenaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini banyak orang yang mengaku cinta Indonesia, tapi kecintaan mereka hanya sebatas kata-kata yang lembut dibibir saja. Bayangkan, kita sulit sekali menemukan anak muda yang berani tampil modis dengan baju yang bermotif batik. Memang batik identik dengan pakaian yang formal, tapi toh sekarang banyak kain batik yang sudah dirancang menjadi pakaian casual dan modern. Sama seperti baju-baju modis lainnya, tapi bahan dasarnya tetap kain batik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih ingat ketika acara pemilihan wakil Indonesia di Asian Idol. Ketika si-MC Daniel Manatta berkomentar, “Kita beri tepuk tangan untuk Anang (suaminya KD) yang selalu setia dengan baju batiknya.” Saya sama sekali tidak mendengar suara riuh tepuk tangan penonton dari speaker TV. Entah orang males memberi tepuk tangan untuk Anang yang notabene nggak seberapa ganteng, atau mungkin pikir mereka disana: “Buat apa kasi tepuk tangan buat orang yang pakai batik. Huh, ndeso…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus diakui image batik adalah baju formal, yang pantesnya digunakan oleh orang-orang yang sudah berkumis, berperut buncit, dan sudah punya momongan. Rasa-rasanya, kalau anak muda pakai batik seperti wong ndeso, orang yang ketinggalan jaman dan nggak tau mode. Bahkan diacara formal seperti resepsi pernikahan-pun, kadang orang masih males pakai batik karena selain kurang keren, juga karena memang nggak punya baju batik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh udah kayak bapak-bapak aja nih pake batik,” kata seorang kawan yang memberi komentar gaya dandan saya ketika bertemu disuatu acara pernikahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Batik diklaim menjadi milik Malaysia, banyak orang yang berkomentar pedas: “Haduh Malaysia ini bener-bener bangsa pencuri, nggak pulau, nggak batik, semua diklaim jadi miliknya.” Semua berkomentar pedas, nggak yang tua nggak yang muda. Tapi pada gilirannya mereka (terutama) yang muda-muda disuruh tampil didepan publik menggunakan batik, malunya minta ampun. Takut dibilang ndesolah, takut dibilang katroklah, sampai takut dibilang ketuaan kayak bapak-bapak. Kalau orang Malaysia (baik yang tua atau yang muda) ternyata bangga kemana-mana pakai batik, lantas siapa yang “salah” dalam persoalan ini?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4560282665706213002-5420572435760714250?l=ceritalensa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritalensa.blogspot.com/feeds/5420572435760714250/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4560282665706213002&amp;postID=5420572435760714250&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/5420572435760714250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/5420572435760714250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritalensa.blogspot.com/2007/12/basa-basi-aku-cinta-indonesia-aku-cinta.html' title='[Basa-Basi]: Aku Cinta Indonesia… Aku Cinta Batik...'/><author><name>Portraits and Photo Story</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14863786762209787106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4560282665706213002.post-7198555586824010474</id><published>2007-12-04T09:43:00.000-08:00</published><updated>2007-12-04T09:49:41.644-08:00</updated><title type='text'>PANTASKAH PEDESTRIAN SURABAYA NOMER SATU DI INDONESIA?</title><content type='html'>"I Love Pedestrian, Beware With Black Hole"&lt;br /&gt;Itulah slogan yang sering muncul diprogram musik VH1, siaran televisi SBO. Diakhir acara, VJ (Video Jockey) yang memandu acara selalu mengatakan: "Hormatilah hak-hak pejalan kaki."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Slogan ini mengingatkan saya pada pedestrian yang ada di Surabaya. Pedestrian yang ada dikota Pahlawan ini, menempati urutan pertama dari 20 pedestrian di 20 kota di Indonesia. Pedestrian ini dinyatakan baik setelah dikunjungi tim Wahana Tata Nugraha (WTN) dari pusat. Dari desain, memang kondisi pedestrian Surabaya cukup layak. Lebar dari pedestrian yang berkisar tiga meter memang sangat nyaman digunakan untuk pejalan kaki. Selain itu, tujuh jalur utama yang masuk dalam master plan pedestrian, yaitu Jl.Basuki Rachmat, Jl.Embong Malang, Jl.Tunjungan, Jl.Panglima Sudirman, Jl Urip Sumoharjo, dan simpang emas Jl.Gubernur Suryo, Jl.Yos Sudarso, sudah bebas dari PKL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kondisi pedestrian kita sudah diakui oleh tim WTN karena desainnya sangat nyaman untuk pejalan kaki, lalu apa yang kurang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menjawabnya dengan mencoba berjalan-jalan diatas pedestian kita selama tiga hari ini. Saya mencari tahu, apa yang membuat kita nyaman sebagai pejalan kaki, dan apa yang membuat kita terganggu. Dari aksi jalan-jalan saya itu, ada tiga hal yang menjadi "nilai minus" pedestrian di Surabaya"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, adalah soal cuaca. Di Surabaya, saat siang hari suhu bisa mencapai titik 36 derajat Celsius. Bayangkan, bagaimana kita bisa menikmati perjalanan, kalau matahari menyengat luar biasa. Di kawasan Tunjungan, pejalan kaki bahkan sulit menemukan pohon. Sebagai tempat berteduh, tentu saja teras gedung-gedung yang berjejer disana. Bandingkan jika kita berjalan di Jl. Endemohen yang teduh dan banyak pohon-pohon berjejer disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, adalah persoalan tata kota. Seandainya di Surabaya tata kotanya sejak awal mengusung konsep sentralistik, maka hal itu akan memudahkan pejalan kaki. Misalnya, dikawasan Basuki Rahmat adalah pusat belanja, jadi semua mall terpusat disana. Mulai mall yang menjual makanan dan pakaian, alat-alat elektronik, sampai yang menjual kendaraan bermotor. Jadi saat masyarakat ingin berbelanja, bisa berbondong-bondong ke tempat ini. Antara mall satu dengan yang lain cukup ditempuh dengan berjalan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kawasan Tunjungan, merupakan sentra perbankan dan perhotelan. Di tempat ini bertebaran bank-bank dan hotel-hotel, mulai yang berbintang tiga hingga berbintang lima. Seandainya saya seorang turis, maka setelah puas jalan-jalan di Basuki Rahmat, bisa langsung pulang ke penginapan di Tunjuangan dengan berjalan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, adalah soal keamanan. Karena pedestrian Surabaya minim pejalan kaki, maka faktor keamanan menjadi bahan pertimbangan. Saat sore menjelang, penerangan pedestrian hanya bergantung dari lampu-lampu gedung mall dan perkantoran. Bandingkan dengan pedestrian crosswalk di Jepang. Warganya sangat suka berjalan kaki, dan ramainya pejalan kaki justru memunculkan perasaan aman. Di Surabaya, minimnya pencahayaan dan sepinya pejalan kaki, justru menjadi peluang dalam menjalankan aksi kriminal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor-faktor lain yang tidak saya temukan untuk mendukung kenyamanan pejalan kaki adalah: tempat duduk. Saat saya menempuh perjalanan dari Kawasan Tunjungan (start didepan Tunjungan Centre) menuju kearah Gubernur Suryo, saya kesulitan menemukan tempat beristirahat, paling tidak untuk meluruskan kaki. Di Singapura, pemerintahnya menyediakan banyak kursi di perbatasan antara jalan dan jalur pedestrian. Para pejalan kaki biasanya memanfaatkannya untuk minum atau merokok. Maklum, merokok di tempat terbuka umum menjadi pilihan utama para perokok, karena di dalam gedung tidak diizinkan merokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencananya, pada tahun 2008 hingga 2010, Dinas Bina Marga dan Pematusan Pemkot Surabaya akan mempercantik pedestrian kota dan menyulapnya menjadi pedestrian crosswalk. Sesuai namanya, pembangunan ini dilakukan untuk memfasilitasi pejalan-kaki. Bahkan anggaran yang dipersiapkan untuk tahun depan mencapai Rp 10 miliar, dimana sepanjang Jl.Raya Darmo merupakan prioritas pada 2008. Jika pemkot berharap proyek ini benar-benar dimanfaatkan oleh pejalan-kaki, maka faktor-faktor yang saat ini masih mengganggu harus segera dicarikan solusinya. Jangan sampai panasnya Surabaya, jauhnya jarak tempuh tempat satu dengan yang lain, soal keamanan, sampai soal tempat duduk untuk beristirahat, menjadi hal-hal yang terlupakan. Kita ingin, pedestrian kita bukan hanya nomer satu karena bentuk dan keindahannya saja, tapi juga berhasil dinikmati para pejalan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;**telah dipublikasikan di Metropolis Jawa Pos (04/12/07)&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4560282665706213002-7198555586824010474?l=ceritalensa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritalensa.blogspot.com/feeds/7198555586824010474/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4560282665706213002&amp;postID=7198555586824010474&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/7198555586824010474'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/7198555586824010474'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritalensa.blogspot.com/2007/12/pantaskah-pedestrian-surabaya-nomer.html' title='PANTASKAH PEDESTRIAN SURABAYA NOMER SATU DI INDONESIA?'/><author><name>Portraits and Photo Story</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14863786762209787106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4560282665706213002.post-4160498401532265343</id><published>2007-11-30T10:03:00.000-08:00</published><updated>2007-11-30T10:04:43.028-08:00</updated><title type='text'>[Basa-Basi]: Katrok Oh Katrok</title><content type='html'>Menurut kamus jayus bahasa wong ndeso, katrok bermakna: ketinggalan jaman. Mulai dari katrok berpakaian, katrok dalam pergaulan, sampai katrok dibidang teknologi informasi. Nah, yang terakhir ini yang sekarang sedang saya alami, karena saya termasuk orang yang tidak mengikuti perkembangan teknologi. Alasannya, kalau saya ikut-ikutan gaul dibidang IT kayak orang-orang berduit, jelas akan ketinggalan karena modal financial saya yang pas-pasan. Selain itu saya juga berprinsip, bahwa hidup itu harus efisien. Misalnya, kalau kita butuh hape hanya buat nelpon, kenapa harus beli hape berkamera? Toh kualitas gambar yang dihasilkan hape berkamera jauh dari kualitas gambar kamera beneran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, dimana-mana orang juga tau kalau beli hape kamera tuh buat gaul. Coba kalau kita nongkrong-nongkrong ama temen-temen, yang bawa hape kamera bisa pamer sana-sini khan? Coba kalau hapenya jadul, model lawas yang bisanya cuman buat nelpon ama sms aja, pasti hapenya disimpen aja dikantong celana,” kata kawan saya tiba-tiba nyerocos nggak jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah itu dia permasalahannya. Apa hape itu diciptakan oleh pembuatnya sebagai sarana gaul?” kata saya nggak mau kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena bukan tipikal orang yang suka mengikuti teknologi, otomatis saya juga tidak paham dengan cara download, apa itu bluetooth, sampe fungsi infra red. Beberapa kekatrokan saya ini baru seputar hape, belom memasuki area perkomputeran yang notabene perkembangannya tidak kalah dengan hape.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat semua orang kemana-mana bawa laptop, saya cukup bangga memiliki komputer Pentium IV yang sudah bisa buat ketik berita, edit foto, sampai memutar lagu dan film. Alhasil karena saya tidak pengen-pengen amat mengetahui teknologi laptop, saat kawan-kawan pada asik punya laptop saya cuma bisa cuek aja. Suatu saat, disebuah acara sharing foto dengan rekan-rekan sesama fotografer, saya cuma bisa celingak-celinguk diketawain rekan fotografer lain saat tidak bisa mengoperasikan laptop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Masa nyalain laptop aja nggak bisa,” kata kawan saya yang rambutnya plontos mulai memperolok saya. Setelah laptop nyala, ternyata penderitaan saya belum berakhir. “Mana mouse-nya?” tanya saya. “Mas, laptop mah nggak pakai mouse juga bisa jalan cursor-nya,” kata si-plontos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari rentetan kejadian yang saya alami tentang IT, mata saya mulai terbuka dan mulai paham, bahwa teknologi diciptakan bukan hanya sebagai fungsinya (seperti hape buat nelpon sama sms), tapi juga berguna sebagai sarana bergaul dan sarana untuk menunjukkan strata sosial seseorang. Orang yang pake hape kamera (biar belinya nyicil pake uang bank) akan dianggap lebih kaya dari orang yang kemana-mana cuma bawa hape yang layarnya belum berwarna dan nada deringnya nggak polyphonic seperti hape saya. Padahal biar nggak berwarna dan nggak polyphonic, hape ini saya beli pake uang sendiri lho. Lagian, kalau harga hape kita nggak mahal-mahal amat, kita nggak perlu repot mem-proteksinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nggak seperti kawan saya yang punya hape kamera yang kapasitas memorinya sampai 1 Giga. Kalau dikeramaian suka GR, yang katanya banyak orang ngelihatin lah (dikira mau nyolong hapenya), sampai suka sibuk sendiri nyelamatin hapenya kalau kebetulan turun hujan.” Takut kemasukan air katanya.&lt;br /&gt; Selain itu, saya juga nggak pernah khawatir kalau hape saya tiba-tiba jatuh karena tingkah-polah saya yang nggak bisa diem. Coba bayangkan kalau yang punya hape kamera tiba-tiba hapenya jatuh, bisa nangis dua hari dua malam tuh. Apalagi kalau hapenya masih baru dan masih bau toko.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4560282665706213002-4160498401532265343?l=ceritalensa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritalensa.blogspot.com/feeds/4160498401532265343/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4560282665706213002&amp;postID=4160498401532265343&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/4160498401532265343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/4160498401532265343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritalensa.blogspot.com/2007/11/basa-basi-katrok-oh-katrok.html' title='[Basa-Basi]: Katrok Oh Katrok'/><author><name>Portraits and Photo Story</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14863786762209787106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4560282665706213002.post-3586172344804881068</id><published>2007-11-30T09:18:00.000-08:00</published><updated>2007-11-30T09:24:27.042-08:00</updated><title type='text'>[Basa-Basi]: Arogansi Bukti Kekuasaan?</title><content type='html'>Kita paling sebel saat melihat tingkah laku seseorang yang arogan. Dulu pas SMA, saya paling sebel sama temen yang wajahnya mirip Tukul Arwana. Orangnya item, rambutnya dipotong kotak persis kayak kulkas dua pintu, bibirnya juga monyong gitu. Kita sebut saja dia, Tukul Jr. Anak ini memang belagunya nggak ketulungan, bahkan sudah menjurus ke arah sikap arogan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mentang-mentang bapaknya pejabat tuh. Khan Kepala Sekolah kenal tuh sama bapaknya dia,” kata temen SMA saya dulu yang juga sebel sama si-Tukul Jr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih inget, waktu itu dia sudah punya genk. Ada lima orang kalau nggak salah. Pokoknya mirip banget sama backstreet boyz. Dan yang bikin sebel, si-Tukul ini gayanya udah kayak bos aja. Pas dikantin, para cecunguk-cecunguknya suka disuruh-suruh ngambilin minuman, ama makanan. Kalau kantinnya lagi penuh, si-Tukul suka nyuruh anak buahnya ngusirin anak-anak yang ada disitu. Pokoknya sok bossy deh. Padahal kalau dipikir-pikir, arogansi yang dia punya Cuma gara-gara bapaknya pejabat, yang notabene duitnya banyak. Dan kalau dipikir lagi, dia khan cuman dimanfaatin ama anak buahnya yang pengen makan gratis dikantin. Sekali lagi fakta membuktikan: Arogansi bukti kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang kawan saya pernah bilang, “kalau ingin tau sifat asli seseorang (termasuk arogan), kita bisa melihatnya saat ada dijalan raya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernyataan kawan saya ini terbukti. Ketika berada ditengah kepadatan lalu-lintas, tiba-tiba telinga saya dikagetkan oleh suara klakson yang luar biasa kencang dan berkali-kali. Waktu itu memang traffic light sudah berwarna hijau, tapi didepan kendaraan saya masih ada 3-4 motor lainnya. Jadi sekalipun dia nglakson sampai kiamat, saya tetep tidak bisa maju beberapa meterpun. Tapi dasar orang arogan, sok bawa mobil, sok orang kantoran yang punya alasan takut datang telat, pelampiasannya ya dengan nglakson seenaknya tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau inget ceritanya si-Tukul Jr dan Mr. Klakson tadi, saya jadi inget dengan diri sendiri. Saya bisa dibilang sering melakukan tindakan arogan. Dan arogansi saya ini jelas merugikan orang lain. Kadang, saat melintas diruas Surabaya yang macet saat jam kantor, saya juga tidak segan-segan untuk menaikkan motor saya keatas trotoar yang notabene tempatnya pejalan kaki. Bahkan saya juga sering bersikap bossy kepada satpam kantor, yang sering saya suruh-suruh beli inilah, beli itulah. Dan kadang saya juga arogan suka “ngadalin” anak baru dikantor, buat disuruh bikin inilah, baca inilah (karena lingkungan pekerjaan saya dunia penyiaran). Bahkan kalau pas gajian, saya juga nggak sungkan-sungkan nyuruh anak baru buat traktir-traktir para senior makan.&lt;br /&gt; Inilah kehidupan, saat seseorang memiliki power, maka secara naluriah tindakan arogan itu muncul. Bahkan saat power yang dimiliki besar, maka tidak sungkan-sungkan sikap arogan itu diwujudkan dalam bentuk menindas orang lain. Tapi jika kita sudah pernah merasakan tidak enaknya menghadapi orang yang arogan, maka ada baiknya kita juga tidak memperlakukan orang lain dengan arogan. Secara teori memang mudah ditulis, tapi susah dipraktekkan. Selamat mencoba!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4560282665706213002-3586172344804881068?l=ceritalensa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritalensa.blogspot.com/feeds/3586172344804881068/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4560282665706213002&amp;postID=3586172344804881068&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/3586172344804881068'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/3586172344804881068'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritalensa.blogspot.com/2007/11/basa-basi-arogansi-bukti-kekuasaan.html' title='[Basa-Basi]: Arogansi Bukti Kekuasaan?'/><author><name>Portraits and Photo Story</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14863786762209787106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4560282665706213002.post-7343416097274354183</id><published>2007-11-22T11:04:00.000-08:00</published><updated>2007-11-22T11:06:35.319-08:00</updated><title type='text'>[Basa-Basi]: Antara Cita-Cita, Usaha, Dan Takdir</title><content type='html'>Waktu kecil, saat ada orang yang bertanya, “kalo gede mau jadi apa?” Saya selalu dengan tegas menjawab: Insinyur. Pasalnya, tolak ukur kesuksesan seseorang dalam bekerja menurut kacamata orang tua, adalah menjadi Insinyur. Seperti babe-nya si-Doel anak sekolahan yang bangga sekali waktu anaknya lulus kuliah dan mendapat gelar “Tukang Insinyur”. Selain itu, tokoh-tokoh lama yang sukses dan menjadi besar, rata-rata bergelar Insinyur, sebut saja Presiden pertama kita Ir. Soekarno, dan mantan Presiden kita Prof. Dr. Ir. BJ. Habibie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cita-cita ini terus Saya bawa sampai menginjak dibangku SMP.&lt;br /&gt;“Lho kok cuman sampai SMP aja mas?” tanya kawan yang berada disebelah Saya yang sedari tadi menyimak cerita Saya.&lt;br /&gt;“Iya, pas duduk dibangku SMP, Saya mulai kenal musik.”&lt;br /&gt;“Lho apa hubungannya musik dengan cita-cita Sampeyan jadi tukang Insinyur,” tanyanya lagi.&lt;br /&gt;“Begini lho ceritanya….,” Saya mulai menarik napas panjang dan bersiap-siap untuk kembali mendongeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak Saya mengenal musik, mulai berkenalan dengan lagu-lagu rock band mancanegara, sampai jatuh cinta dengan alat musik yang bernama gitar, cita-cita Saya mulai beralih: “Saya ingin jadi musisi”. Mulai dari sinilah, motivasi belajar Saya yang menggebu-gebu mulai luntur, berganti dengan motivasi Saya yang berapi-api untuk mempelajari teknik dan skill permainan gitar. Tentu saja orang tua menentang keras cita-cita Saya ini. Orang tua mana sih yang rela anaknya menjadi “pengamen”. Sekalipun manggungnya dari café satu ke café lain, sampai dari panggung ke panggung, tetap saja orang tua Saya menyebutnya mengamen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cita-cita Saya menjadi musisi ini berakhir, manakala kemampuan Saya dalam bermain gitar tidak berkembang sama sekali, sampai Saya akan menjadi mahasiswa. Nah, dari sekelumit pengalaman pribadi ini, membuktikan bahwa terkadang apa yang kita cita-citakan tidak selalu sesuai dengan harapan meski kita berusaha maksimal. Motivasi besar-pun juga tidak akan menjamin, apa yang kita cita-citakan akan tercapai. Seperti kata orang bijak, “keberhasilanmu itu berasal dari 50 persen usaha yang sudah kamu lakukan, dan 50 persen keberuntungan yang kamu miliki.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, sekeras apapun usaha yang kita lakukan, jika Tuhan berkehendak lain, siapa yang bisa mencegah.&lt;br /&gt;“Ya jelas lah mas, sapa yang bisa menentang kuasa Tuhan? Tapi kalau semua orang berprinsip seperti Sampeyan, banyak orang males dong,” kata kawan Saya tadi.&lt;br /&gt;“Salah,” jawab Saya tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau orang malas, dia hanya bermimpi dan berharap keberuntungan menghampirinya untuk mewujudkan keinginannya. Sementara kalau Saya, sudah berusaha mati-matian untuk mewujudkan cita-cita, tapi ada saja halangan yang muncul. “Saya sudah berusaha, namun keberuntungan tidak berpihak.”&lt;br /&gt; “Itu namanya takdir, udah terima aja mas. Lagian kalau dilihat dari potongan fisik, Sampeyan nggak ada keren-kerennya sama sekali, nggak ada pantes-pantesnya jadi gitaris. Jelas saja Tuhan tidak memberi Sampeyan jalan kesana,” kawan Saya yang jelek tadi tiba-tiba berkomentar pedas kepada Saya sambil kemudian berlalu pergi meninggalkan Saya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4560282665706213002-7343416097274354183?l=ceritalensa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritalensa.blogspot.com/feeds/7343416097274354183/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4560282665706213002&amp;postID=7343416097274354183&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/7343416097274354183'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/7343416097274354183'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritalensa.blogspot.com/2007/11/basa-basi-antara-cita-cita-usaha-dan.html' title='[Basa-Basi]: Antara Cita-Cita, Usaha, Dan Takdir'/><author><name>Portraits and Photo Story</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14863786762209787106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4560282665706213002.post-3029487820863620645</id><published>2007-11-19T04:37:00.000-08:00</published><updated>2007-11-19T05:03:38.282-08:00</updated><title type='text'>[Basa-Basi]: Semangat!</title><content type='html'>Ketika melihat peserta Gerak-Jalan Mojokerto-Suroboyo melintas didepan mata Saya, tiba-tiba muncul perasaan haru. Hati Saya bergetar, bahkan tanpa sengaja air mata Saya menetes. Ini bukan soal perasaan Saya yang cengeng, bukan juga soal sisi melankolis. Tapi, ini adalah air mata penghormatan. Air mata yang Saya dedikasikan untuk sebuah kata: Semangat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melintas tepat dihadapan Saya, seorang ayah berusia sekitar 50 tahun-an, dan seorang anak ABG yang Saya taksir baru berumur 20-an. Mereka berjalan beriringan, sebagai peserta perorangan event Gerak-Jalan ini. Meski langkah mereka seirama, tapi melihat raut muka pasangan ini, nampaknya rasa capek sudah hinggap dikaki mereka. Si-anak berjalan terseok-seok, sementara si-ayah mulutnya sudah buka tutup seperti mulut ikan, yang artinya napas sudah tinggal setengah paru-paru. Namun, kondisi ini tidak membuat mereka berhenti, tapi justru membuat mereka semakin semangat. Pasalnya, Tugu Pahlawan sebagai titk finish tinggal beberapa ratus langkah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum habis rasa kagum Saya terhadap pasangan bapak-anak tersebut, kemudian muncul sosok unik lain yang menyita perhatian Saya. Kali ini seorang kakek, yang mengaku berusia 70 tahun-an. Unik karena dari cara berpakaian, kakek ini tampil seperti seorang pejuang yang lengkap dengan atribut-atributnya. Dibagian atas, kakek ini memakai ikat kepala bermotifkan bendera Indonesia. Bajunya berwarna coklat seperti seragam pramuka, dengan beberapa emblem. Bercelana panjang dengan warna yang sama dengan atasan, kakek ini juga memakai sepatu tentara. Meski usianya hampir se-abad, tapi langkahnya tidak terlihat gontai. Bahkan ketika Saya mengeluarkan kamera untuk memotret beliau, tiba-tiba tangannya diangkat disamping kepala membuat gerakan hormat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah berapa kali istirahat pak?” tanya Saya.&lt;br /&gt;“Baru dua kali,” jawabnya singkat.&lt;br /&gt;“Dua kali? Gila…!!!” batin Saya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gila, karena Gerak-Jalan Mojokerto-Suroboyo ini menempuh jarak yang panjang, sekitar 55 km. Seperti namanya, tidak ada elemen lain yang mendukung perjalanan peserta selain kaki mereka. Saya cuman bisa bergumam: “Semangat mereka luar biasa.” Semangat yang muncul bukan saja karena uang yang menjadi hadiah bagi pemenangnya, tapi semangat ingin menyelesaikan tugas, semangat kebersamaan ikut meramaikan event tahunan, dan semangat-semangat lainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya selalu iri dengan mereka yang memiliki semangat tinggi. Karena meski bukan orang yang pesismis, tapi Saya juga bukan orang yang memiliki semangat tinggi. Bahkan seringnya, semangat Saya padam ditengah jalan. Dulu Saya berkeinginan menurunkan berat badan, karena memang terlihat kedodoran. Dengan tinggi 168 cm, tentu berat badan Saya yang mencapai 66 kg sangat over-weight. Karena berat ideal secara teori: tinggi dikurangi 110, maka berat badan Saya seharusnya 168 - 110 = 58 kg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bermodalkan semangat, Saya memutuskan untuk melakukan sit-up 20x3 dalam sehari. 20 dipagi hari, siang, dan menjelang tidur. Hari pertama, sukses tanpa hambatan. Hari kedua, sama dengan hari pertama. Hari ketiga, Saya mulai merasakan sakit disekitar perut. Selain itu, karena rutinitas pekerjaan yang tidak beraturan, membuat Saya kadang-kadang males pas dipagi hari, semangat disiang hari. Kadang semangat dipagi hari, tapi malemnya males-malesan. Dan seperti biasa, ending dari program pengecilan perut ini: Gagal Total. Dan lagi-lagi pemicunya adalah persoalan semangat yang luntur ditengah jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu Saya juga berkeinginan menjadi seorang pegawai pemerintahan, seperti PNS, Polisi, atau TNI. Asumsi Saya, dengan menjadi pegawai pemerintahan, masa depan Saya terjamin oleh dana pensiun. Paling tidak, setelah Saya mati keluarga tidak terlantar karena dana pensiun masih bisa menghidupi mereka kelak. Dengan bermodalkan pemikiran ini, Saya mulai hunting lowongan pekerjaan yang berkaitan dengan pemerintahan. Mulai dari buka website universitas-universitas terkemuka, ikut milis lowongan, sampai tanya-tanya ke teman. Tapi, begitu Saya melihat syarat-syarat yang tercantum, seperti: lowongan ditulis tangan, menyertakan ijasah mulai SD sampai kuliah, mengurus kartu kuning di Dinas Tenaga Kerja, hingga meminta surat sehat dari dokter, membuat Saya mulai patah arang. Apalagi kalau lowongannya harus dibuat rangkap tiga-lah, rangkap empat-lah. Bayangkan, berapa dana yang harus Saya keluarkan untuk pengurusan ini itu. Belum lagi tenaga yang Saya keluarkan untuk pergi ke kantor A, B, C, sampai Z. Huh, capek tau..!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Diterima aja belum, udah disiksa dengan syarat-syarat bejibun yang tentu saja menyusahkan Saya.”&lt;br /&gt;“Lho mas, kalau Sampeyan keberatan, ya nggak usah ngelamar tho, gitu aja kok repot,” kata kawan Saya yang mirip nobita berkomentar.&lt;br /&gt;“Tapi khan…hmm, iya juga sich,” kata Saya manggut-manggut sambil membenarkan perkataan si-nobita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itulah Saya, semangat membara diawal-awal dan selalu padam ditengah jalan. Harusnya Saya bisa meniru apa yang dilakukan oleh para peserta Gerak-Jalan ini. Biar jarak tempuh perjalanan mereka jauuuuhnya minta ampun, pantang berhenti ditengah jalan, kecuali pingsan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya jelas lah mas, emang orang pingsan bisa jalan sendiri? Aneh-aneh aja Sampeyan ini,” celetuk si-nobita tiba-tiba.&lt;br /&gt;“Hus diem, nyolot aja nih dari tadi,” bentak Saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai ajaran agama, kalau manusia itu wajib berdoa dan berusaha, maka Saya-pun wajib berusaha dengan semangat tanpa ada perasaan setangah-setengah. Terima kasih peserta Gerak-Jalan, Langkah-langkahmu sejauh 55 km telah menjadi inspirasi bagi mereka yang bisa memetik hikmahnya.. Insipirasi bagi siapa saja, untuk selalu mengobarkan semangat, pantang berhenti ditengah jalan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wah mas, mikir dikit dong Sampeyan. Kalau pesertanya berhenti ditengah jalan, kapan nyampenya…? Cape’deh,” kata si-nobita nyahut sambil membuat gerakan tangan diatas jidat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4560282665706213002-3029487820863620645?l=ceritalensa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritalensa.blogspot.com/feeds/3029487820863620645/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4560282665706213002&amp;postID=3029487820863620645&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/3029487820863620645'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/3029487820863620645'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritalensa.blogspot.com/2007/11/basa-basi-semangat.html' title='[Basa-Basi]: Semangat!'/><author><name>Portraits and Photo Story</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14863786762209787106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4560282665706213002.post-4190014623480015531</id><published>2007-11-13T09:59:00.000-08:00</published><updated>2007-11-13T10:06:19.799-08:00</updated><title type='text'>[Basa-Basi]: Semut</title><content type='html'>Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, semut dulu menjadi favorit Saya. Bayangkan, dengan bentuk tubuhnya yang supermini, semut memiliki kekuatan yang luar biasa besar. Kadang kalau Saya lagi iseng, Saya sering memperhatikan tingkah polah mereka. Takjubnya luar biasa, saat Saya berhasil menemukan seekor semut yang berhasil mengangkut benda besar yang ukurannya jauh lebih besar dari bodinya. “Wah-wah-wah, kalau saja ada orang yang kekuatannya seperti semut di Indonesia, tiap ada kompetisi angkat besi, kita pasti menang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang bikin Saya geleng-geleng kepala, semut ini bisa disebut ikon gotong-royong dimuka bumi ini. Bayangkan, kalau semut lagi jalan, teraturnya minta ampun. Jarang Saya melihat ada semut yang main serobot anggota didepannya. Beda sekali dengan kelakuan Saya, yang kalau ngelihat antrian dikit waktu nonton konser, udah celingak-celinguk nyariin mas-mas yang jadi calo tiket. Kalau ada kesempatan curang dikit aja, langsung serobot sana-serobot sini. Jujur aja, pas sudah berhasil nyerobot rasanya gimana gitu. Puasnya nggak ketulungan. Hehehe…!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap positif lain yang Saya dapatkan dari semut, adalah keramahannya. Coba deh kita perhatikan lebih teliti waktu semut lagi jalan. Terutama waktu semut berpapasan satu sama lain. Pasti deh saling tegur-sapa. Kepala semut satu dengan yang satunya lagi ditempelkan. Mirip orang ciuman, tapi lebih kearah menyapa. Saya sampai kagum nggak ketulungan ngeliatnya. Bayangkan kalau saya jadi semut trus harus ketemu dengan 1000 semut lainya, ya ampun…cape’deh harus nyapa atu-atu. Tapi sikap ini memang harus diapresiasi, nggak seperti Saya yang sombong dan suka pura-pura nggak tau kalau ketemu orang. Kadang-kadang malah berharap disapa duluan, padahal siapa Saya gitu loh. Malah kalau yang kebetulan nyapa adalah orang yang nggak diharapkan, Saya malah pura-pura nggak denger. Jahat ya! Dasar Saya ini memang pria ganteng berkelakuan setan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekian dulu kebaikan-kebaikan yang Saya utarakan tentang makhluk mini berwarna hitam dengan jumlah kaki enam ini. Cukup sudah! Karena Saya sedang marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho kok marah-marah? Bukannya barusan sampeyan muji-muji semut?” kata kawan Saya tiba-tiba nyletuk. “Busyet, nggak ada angin, nggak ada hujan, nyaut aja nih orang,” jawab Saya dengan nada tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi begini ceritanya. Dalam beberapa hari terakhir ini, Saya dibuat dongkol ama kelakuannya semut. Sudah Saya puji-puji, Saya kagumi, eh mungkin karena si-semut ini sayang sama Saya, jadinya mereka pengen deket-deket terus. Sampai-sampai kedekatan mereka melebihi batas dan etika, seperti naik-naik ke tempat tidur, dan asik jalan-jalan ke gantungan baju. Puncaknya, mereka dengan seenaknya gigitin tangan, badan, sampai telinga Saya. Duh, kurang ajar banget nih binatang. Dasar anjing! Eh salah, semut!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, kalau sudah emosi, kelakuan jahat Saya yang seperti setan keluar. Cepet-cepet, Saya beli kapur anti serangga, trus dengan membabi-buta Saya serang makhluk mini ini tanpa ampun. Saya coret sana, coret sini, kalau kebetulan masih ada yang telihat melarikan diri, langsung deh tangan Saya reflek bergerak, “Plakkk…! Mampus loe!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas, membinasakan kawanan perusuh didalam kamar ini, Saya yang kecapekan akhirnya terkulai lemas diatas kasur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lho kok kecapekan? Khan sampeyan cuman ngusir semut,” tiba-tiba kawan Saya yang tadi nyletuk lagi.&lt;br /&gt;“Emang kalau ngusir semut nggak boleh capek? Khan tadi sekalian bersih-bersih kamar, gimana sih? Jawab Saya dongkol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit kemudian Saya terlelap, benar-benar ketiduran. Sejurus kemudian Saya terbangun dalam posisi terikat. Disekeliling, Saya melihat banyak sekali semut-semut yang ukurannya sepuluh kali lebih besar dari badan Saya. Dan dari ekspresi yang Saya lihat, mereka tampak sangat lapar dan berniat memakan Saya. “Oh God, dimana ini? Kenapa tubuh Saya kecil sekali? Kenapa Saya dalam keadaaan terikat?” pertanyaan demi pertanyaan tidak henti-hentinya Saya ucapkan. Belum sempat menemukan jawaban, tiba-tiba seekor semut berbadan tegap yang sedari-tadi berada dibarisan depan, mulai membuka mulut. “Gila, taringnya tajam sekali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semut ini memiliki mata berwarna merah menyala, mulutnya buka-tutup seperti gunting rumput dirumah Saya. Selain itu, disela-sela mulutnya menetes cairan berwarna putih yang kalau menyentuh tanah bisa mengeluarkan asap. Saya benar-benar menangis, terkulai tak berdaya dibalik tali yang mengikat badan Saya dengan rapat. “Mati kamu!!!” dengan suara menggelar tiba-tiba semut besar itu bersuara. “Tidaaaaakkkk…” Saya berteriak sekencang-kencangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Gdubrakkk…” Saya terjatuh dari tempat tidur. Komat-kamit mulut Saya berdoa mengucap syukur kehadiratNya. “Untung cuman mimpi.” Betapa mengerikannya mimpi itu, sampai-sampai kaos yang Saya pakai basah kuyup. Mungkin karena ketakutan setengah mati, keringat dingin keluar tidak terkendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesaat setelah diri Saya tenang, Saya kembali merenung: “Mungkin arwah ribuan semut yang Saya bunuh tadi masih gentayangan dikamar ini. Mereka protes, kenapa Saya mengusir dengan cara yang kasar, meracun dengan kapur anti serangga. Bahkan saat masih belum puas, Saya masih memukuli mereka dengan tangan Saya yang besar.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya telah berdosa. Saya memikirkan, betapa menjeritnya mereka saat Saya dengan beringas mencorat-coret tembok kamar dengan kapur anti serangga. Pasti semut-semut itu ketakutan, menangis, dan ingin sekali memaki-maki Saya. Dan seandainya bisa, mereka pasti telah melancarkan gelombang demonstrasi besar-besaran dikamar Saya. Kesadaran Saya untuk menghargai sesama makhluk ciptaan Tuhan mencul, dan berjanji tidak akan bertindak otoriter terhadap makhluk-makhluk mini yang berkeliaran didalam kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tiba-tiba…”Plaakkk!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sengaja tangan Saya telah menewaskan seekornya nyamuk yang sedang enak-enaknya menikmati darah segar dari kaki Saya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4560282665706213002-4190014623480015531?l=ceritalensa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritalensa.blogspot.com/feeds/4190014623480015531/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4560282665706213002&amp;postID=4190014623480015531&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/4190014623480015531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/4190014623480015531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritalensa.blogspot.com/2007/11/basa-basi-semut.html' title='[Basa-Basi]: Semut'/><author><name>Portraits and Photo Story</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14863786762209787106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4560282665706213002.post-402710498591257656</id><published>2007-11-12T07:48:00.000-08:00</published><updated>2007-11-12T07:49:56.354-08:00</updated><title type='text'>[Basa-Basi]: Saya Adalah Setan</title><content type='html'>Kenapa Saya mengatakan, kalau diri Saya adalah setan. Makhluk terkutuk yang dimurkai Allah karena telah mengelabui Adam sehingga harus “turun” dari surga. Sosok yang selalu digambarkan dengan wajah buruk rupa, kepala bertanduk, dan semua kelakuannya menyesatkan umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan karena wajah Saya yang memiliki kemiripan dengan setan, yaitu sama-sama buruk rupa, tapi kadang kelakuan Saya juga sama sadisnya dengan makhluk itu. Suka melakukan tindakan-tindakan illegal, seperti misalnya yang formal: kalau disuruh sholat ma pacar “Mas udah solat dhuhur?” Saya biasanya cuman bilang “iya ntar, tanggung neh dek lagi asik baca koran, lagian azharnya khan masih lama.” Dan biasanya sampai azhar tiba, Saya juga belum beranjak untuk berangkat sholat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara yang iseng-iseng ngelamun, Saya sering mikir, “kenapa ya kita harus senantiasa beribadah?” Padahal khan sebagai manusia, kita cukup berbuat baik, dan tidak melakukan tindakan-tindakan yang melanggar norma-norma masyarakat, termasuk hukum. Karena teorinya, didunia ini khan ada banyak agama. Masing-masing memiliki Tuhan yang berbeda-beda. Jadi siapa yang benar diantara agama-agama ini, belum ada yang tahu, kecuali kalau ada yang mati, kemudian bangkit dan menceritakan: “eh diakhirat saat gue mati, ternyata agama yang benar adalah agama A, jadi buat elo-elo yang sekarang masih belum memeluk agama A, cepet-cepet deh pindah agama.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuh khan, pikiran keparat Saya ini bener-bener pikiran setan. Meragukan kebesaranNya, mencoba bersikap logis hanya untuk menutupi kemalasan Saya dalam melaksanakan sholat. Tapi kalau dipikir-pikir, dalam islam juga dikatakan bahwa melaksanakan sholat itu berat. Bayangkan, kita sebenarnya hanya diwajibkan beribadah, 5x2 menit sehari (kalau sholatnya tanpa doa), tapi banyak sekali manusia-manusia dimuka bumi ini yang masih males-malesan saat adzan mulai berkumandang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang kawan Saya pernah bergurau soal surga: “Jangan khawatir, kalau elo nggak diterima disurganya agama A, khan masih ada agama B,C, dan D yang siap menerima elo. Asal loe bawa duit pelican aja buat nyogok malaikatnya.” Busyet, kalau ingat guyonan ini, Saya benar-benar mengamini kalau “joke” ini dilontarkan oleh seorang setan. Dan mungkin setan itu, seperti Saya yang sedang iseng membuat tulisan ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4560282665706213002-402710498591257656?l=ceritalensa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritalensa.blogspot.com/feeds/402710498591257656/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4560282665706213002&amp;postID=402710498591257656&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/402710498591257656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/402710498591257656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritalensa.blogspot.com/2007/11/basa-basi-saya-adalah-setan.html' title='[Basa-Basi]: Saya Adalah Setan'/><author><name>Portraits and Photo Story</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14863786762209787106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4560282665706213002.post-888170850521971255</id><published>2007-11-11T00:57:00.001-08:00</published><updated>2007-11-11T01:00:49.792-08:00</updated><title type='text'>Ocehan si-Bejo: "Mari Menikah di Hari Pahlawan"</title><content type='html'>Bulan Nopember ini, rasanya menjadi musim kawin bagi pasangan-pasangan yang sudah mantab berdiri diatas pelaminan. Indikatornya jelas: "Dalam bulan ini, Saya mendapatkan empat buah undangan pernikahan dari kawan-kawan Saya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua orang memutuskan menikah tanggal 3 dan 4 Nopember, sementara dua orang lagi (meski tidak janjian) menikah tepat ditanggal 10 Nopember bertepatan dengan hari pahlawan. Setelah selidik punya selidik, alasan yang diungkapkan dua kawan Saya itu berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si-A yang jelas-jelas keturunan Jawa asli mengatakan, "Sebenarnya bukan nepat-nepatin tanggalnya sich Jo, cuman setelah diitung oleh keluarga antara wetonku ama wetonnya calon istri, jatuhnya memang tanggal 10." Bukan kenapa, orang Jawa memang sangat detail saat menghitung hari H. Karena menurut keterangan beberapa paranormal yang sempat saya interview: "Kalau hitungannya tepat, maka kelangsungan keluarga nantinya bisa aman sejahtera."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kawan Saya si-B yang jelas bukan orang Jawa memilih tanggal 10 karena nilai historisnya. "Hari pahlawan, artinya setiap tahun pernikahan kita diperingati juga oleh orang se-Indonesia," Katanya meyakinkan Saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi benar, pas tanggal 10, pas hari pahlawan, tidak kurang ada lima orang yang melaksanakan pernikahan "hanya" disepanjang Jl.Ahmad Yani saja. Seingat Saya, ada digedung Dinas Tenaga Kerja, Gedung Bulog, Mapolda Jatim, Gedung Ubhara, dan satu lagi dipusat veteriner. Digedung-gedung itu nampak mobil-mobil berjejeran, dan tentu saja, janur kuning melengkung di gerbang depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya ampun, niat bener nih orang-orang," batin Saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin secara hitungan Jawa, tanggal 10 merupakan hari baik untuk pernikahan. Mungkin juga bagi beberapa pasangan, tanggal 10 yang bertepatan dengan hari pahlawan, merupakan momentum yang langka. Tapi yang pasti, Saya ucapkan selamat berbahagia saja untuk mereka-mereka yang sudah mengucapkan ikrar suci pernikahan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4560282665706213002-888170850521971255?l=ceritalensa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritalensa.blogspot.com/feeds/888170850521971255/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4560282665706213002&amp;postID=888170850521971255&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/888170850521971255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/888170850521971255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritalensa.blogspot.com/2007/11/ocehan-si-bejo-mari-menikah-di-hari.html' title='Ocehan si-Bejo: &quot;Mari Menikah di Hari Pahlawan&quot;'/><author><name>Portraits and Photo Story</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14863786762209787106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4560282665706213002.post-1606588007703866649</id><published>2007-11-07T11:27:00.000-08:00</published><updated>2007-11-07T11:31:59.616-08:00</updated><title type='text'>Ocehan si-Bejo: "Indahnya Pertengkaran"</title><content type='html'>Dalam hubungan percintaan, seperti pacaran, yang namanya bertengkar itu biasa. Bahkan kadang, pemicu pertengkaran hanyalah hal-hal yang sepele, nggak penting, dan "aneh". Misalnya, bertengkar hanya karena keasikan tidur trus lupa sms. Atau soal selera, yang satu pengen makan nasi goreng sementara yang satunya lagi pengen makan bebek goreng, beda warung, debat mau makan apa, trus bertengkar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya-pun juga kerap dengan si-pacar. Hari ini-pun Saya juga bertengkar. Sama dengan pasangan-pasangan yang masih berpacaran lainnya, bahan pertengkaran kami juga sama. Hal yang nggak penting! Saling curiga dalam pemakaian YM (Yahoo Messenger).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fasilitas chatting, memang dimana-mana selalu bikin perkara. Kalau Saya tidak salah ingat, tahun ini seorang suami menceraikan istrinya karena ketahuan selingkuh lewat YM. Lho kok bisa ketahuan? Jelas ketahuan, lha wong istrinya itu chat dengan suaminya sendiri. Dua-duanya pakai nama samaran, sayang curhatan yang dilontarkan di YM itu, sama dengan problematika rumah tangga mereka. Jadilah si-suami emosi dan menceraikan si-istri. Nah, bahaya khan kalau pakai-pakai fasilitas chat! Karena terkadang, saat dibalik komputer, orang sering tidak bisa mengontrol emosi mereka. Terbawa perasaan, sampai kadang ada yang jatuh cinta pada pasangan chat-nya, padahal ketemu aja belum pernah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke pertengkaran Saya dengan si-pacar, duduk perkaranya adalah: si-pacar ini ngakunya nggak doyan YM, tapi saat di cek melalui email dan YM, ketahuan deh kalau dia dalam minggu-minggu ini melakukan aktifitas chat itu. Maksud Saya pada si-pacar, kalau emang suka YM, ya YMan aja, tapi jangan sembunyi-sembunyi. Biasanya, sesuatu yang dilakukan sembunyi-sembunyi itu, merupakan tindakan ilegal. Contoh, kalau ABG baru belajar ngerokok, khan pasti ngerokoknya sembunyi-sembunyi. Betul gag?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, dengan perkara yang sepele dan nggak penting ini, kita-pun melaksanakan rutinitas pertengkaran yang kerap dilakukan pasangan lain. Yang ngotot lah, gag mau kalah, sampai nggak sms, males nyamperin kerumah, dan males ngomong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi namanya juga masih cinta, disaat kita sedang bertengkar dan berpisah satu sama lain (busyet bahasanya), perasaan kangen itu muncul. Dalam situasi seperti ini, dalam pikiran Saya muncul hal-hal positif tentang si-pacar. Seperti, dia yang cantik, pinter, pengertian, dan setia menemani Saya hampir tiga tahun ini. Saking positifnya perasaan kangen Saya ini, sampai-sampai Saya merasa bahwa hidup ini tidak akan ada artinya kalau tanpa dia. Sumpah! Ini bukan dibuat-buat. Bahkan begitu melankolisnya perasaan Saya, sampai-sampai detik itu juga Saya memutuskan berangkat ke rumah si-pacar, padahal jaraknya jauuuuuuuuuuh banget (...Saya nggak punya patokan pasti, tapi sumpah, rumahnya jauh bok!...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betul kata orang bijak, kita akan merasakan betapa berartinya seseorang saat kita kehilangan. Terima kasih banyak buat "pertengkaran" yang sudah datang dalam hubungan Saya dengan si-pacar. Karena setelah kejadian itu, perasaan kita semakin "dekat". Moga-moga saja dapat restu dari Pencipta Langit dan Bumi, agar kita berdua bisa bersatu dalam sebuah ikatan suci perkawinan. Amin&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4560282665706213002-1606588007703866649?l=ceritalensa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritalensa.blogspot.com/feeds/1606588007703866649/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4560282665706213002&amp;postID=1606588007703866649&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/1606588007703866649'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/1606588007703866649'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritalensa.blogspot.com/2007/11/ocehan-si-bejo-indahnya-pertengkaran.html' title='Ocehan si-Bejo: &quot;Indahnya Pertengkaran&quot;'/><author><name>Portraits and Photo Story</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14863786762209787106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4560282665706213002.post-8357593565544657312</id><published>2007-11-05T09:44:00.000-08:00</published><updated>2007-11-05T10:06:44.750-08:00</updated><title type='text'>Ocehan si-Bejo: "Musim Hujan Telah Tiba"</title><content type='html'>Kamis 01 Nopember 2007, Hujan turun membahasi Surabaya. Tepat saat tanda waktu menunjukkan pukul 00.06 WIB. Kangen memang rasanya mencium "aroma" air yang menyentuh tanah. Baunya sungguh khas, seakan aroma terapi yang menenangkan hati kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saat hujan benar-benar lebat dan air tampak menggenang dipelataran parkir Citandui 14 (Kantor Radio Mercury, tempat Saya bekerja), tiba-tiba membuyarkan lamunan Saya akan indahnya musim penghujan. Saya tidak takut akan banjir, karena tempat tinggal Saya tergolong daerah yang tinggi. Jadi seumur-umur Saya belum pernah melihat yang namanya banjir menggenangi jalanan sekitar rumah Saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak juga takut akan hilangnya waktu. Meski kadang hujan datang tiba-tiba, sehingga seringkali tidak kenal waktu dan membuat kita telat datang ke kantor, atau sukses bikin bete siswa dan mahasiswa yang mau berangkat menuntut ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang bikin Saya takut, karena hujan akan memagari aktifitas fotografi Saya. Kamera yang notabene merupakan barang elektronik, tentu sangat anti dengan air. Benda yang satu ini jelas akan "rusak" kalau air hujan yang turun masuk ke celah-celah bodi kamera. Nah, dengan adanya kelemahan-kelemahan ini, mau tidak mau maka Saya harus "mengalah" untuk tidak melakukan aktifitas pemotretan, daripada kamera kesayangan Saya (yang dibeli dengan keringat dan darah) harus pensiun karena terkena hujan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu-satunya solusi selain "membungkus" kamera Saya ke dalam drybox, adalah memanfaatkan keberadaan tas plastik atau "tas kresek". Tas multifungsi ini (karena bisa digunakan sebagai tempat sampah, nyimpen cucian kotor, sampai membungkus makanan), sangat berguna saat hujan turun tiba-tiba dan nggak beraturan. Dan akan lebih aman lagi, kalau Saya membawa tas kresek lebih dari satu. Karena pada prinsipnya, semakin banyak tas kresek yang Saya bawa, maka semakin tebal proteksi yang Saya lakukan kepada kamera Olympus E300 kesayangan Saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim hujan telah tiba, dan kita memang harus menerima serta mensyukuri kehadirannya. Sekarang tinggal bagaimana Saya bersikap. Apakah memilih menyimpan kamera Saya untuk satu musim dengan resiko kehilangan obyek foto, atau memanfaatkan tas kresek sebagai "dewa penyelamat" pada saat hunting diluar ruangan. Sebuah pilihan yang secepatnya harus Saya ambil, mengingat hujan saat ini sudah mulai akrab datang setiap hari menyapa Saya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4560282665706213002-8357593565544657312?l=ceritalensa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritalensa.blogspot.com/feeds/8357593565544657312/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4560282665706213002&amp;postID=8357593565544657312&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/8357593565544657312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/8357593565544657312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritalensa.blogspot.com/2007/11/ocehan-si-bejo-musim-hujan-telah-tiba.html' title='Ocehan si-Bejo: &quot;Musim Hujan Telah Tiba&quot;'/><author><name>Portraits and Photo Story</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14863786762209787106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4560282665706213002.post-8948857547467578047</id><published>2007-10-31T12:15:00.000-07:00</published><updated>2007-10-31T12:17:58.250-07:00</updated><title type='text'>Ocehan si-Bejo: “Batukku Mahal Sekali”</title><content type='html'>Benar kata orang bijak: “Kesehatan itu mahal harganya”. Saya juga mengamini pendapat ini. Bahkan Saya masih ingat dengan cletukan seorang teman yang mengatakan, “ke dokter tuh bukan takut ama jarum suntik atau alat operasinya, yang bikin takut tuh, setelah diperiksa kita harus bayar berapa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah seminggu ini Saya diserang batuk yang lumayan hebat. Bahkan kalau membaca riwayat kesehatan Saya, batuk kali ini bisa dikatankan luar biasa. Karena, obat umum yang dijual bebas, sudah Saya coba satu persatu. Mulai dari merk A sampai Z (…ya ampun banyak banget…), jamu, sampai makan kencur mentah. Bayangkan, kencur yang sudah diolah jadi jamu saja males minumnya, apalagi kencur yang masih mentah. Tapi demi sebuah kata: Kesehatan, mau nggak mau harus Saya makan, biar rasanya pahit minta ampun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ternyata, batuk kali ini memang “beda”. Biar sudah dihajar dengan obat-obatan dan jamu-jamuan, nampaknya virus yang menempel ditenggorokan sudah mulai “kerasan” tinggal disana. Iya kalau yang nempel cewek cantik, pasti nyenengin. Tapi kali ini yang nempel virus. Virus yang tiap lima menit sekali selalu memaksa Saya mengeluarkan suara “uhuk…uhuk…uhuk”. Virus yang setiap pagi selalu memaksa Saya mengeluarkan makanan enak yang Saya makan kemarin malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ortu juga bilang, “Batuk tuh nggak bisa disepelein. Kalau batuknya lama, bisa bikin badan kamu kurus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat betapa bandelnya batuk Saya kali ini, akhirnya Saya memutuskan untuk berobat. Kepengennya sih berobat dipuskesmas aja biar murah. Tapi karena batuk “yang paling parah” menyerang pagi-pagi buta, mau nggak mau Saya harus berangkat ke rumah sakit terdekat yang terkenal mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Harus banyak minum air putih hangat, jangan lupa nanti saya kasi anti biotic, diminum sampai habis ya,” kata dokter cantik berwajah putih yang memeriksa Saya. Setelah diperiksa, dan diberi pengarahan ini itu, Saya dipersilahkan mengurus administrasi dikasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Totalnya 170 ribu Rupiah,” kata petugas kasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hah! Mahal sekali. Gila…hanya untuk batuk kacangan yang Saya derita beberapa hari ini, Saya harus mengeluarkan uang sebanyak itu. Luar biasa! Ini khan cuman batuk, bukan sakit A atau sakit B yang butuh penganan serius. Bukan sakit yang mengharuskan Saya berbaring ditempat tidur, badan panas, dan kalau makan harus disuapin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ambil positifnya aja,” kata Ayah yang pagi itu mengantar Saya berobat.&lt;br /&gt;“Betul,” pikir Saya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau cuman batuk saja Saya harus mengeluarkan uang sebanyak itu, bagaimana kalau penyakit yang lain. Penyakit yang lebih parah dan mengharuskan Saya beristirahat berhari-hari. Untung Tuhan masih sayang dengan Saya. Masih peduli dengan Saya dan mengingatkan kelalaian diri ini dengan batuk. Coba kalau Tuhan mengingatkan Saya dengan cara lain yang lebih “parah” dari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamunan Saya buyar. Saya keluarkan uang 170 ribu tanpa pikir panjang lagi dan langsung “ngeloyor” keluar rumah sakit. Sakit memang mahal. Tapi dengan sakit kita jadi paham, betapa berharganya kesehatan itu. Setidaknya Saya jadi tahu, betapa Tuhan masih memperhatikan kita.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4560282665706213002-8948857547467578047?l=ceritalensa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritalensa.blogspot.com/feeds/8948857547467578047/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4560282665706213002&amp;postID=8948857547467578047&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/8948857547467578047'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/8948857547467578047'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritalensa.blogspot.com/2007/10/ocehan-si-bejo-batukku-mahal-sekali.html' title='Ocehan si-Bejo: “Batukku Mahal Sekali”'/><author><name>Portraits and Photo Story</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14863786762209787106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4560282665706213002.post-3189337764479931741</id><published>2007-10-30T11:59:00.000-07:00</published><updated>2007-10-30T12:08:10.918-07:00</updated><title type='text'>Ocehan si-Bejo: "Bang Rhoma Oh Bang Rhoma"</title><content type='html'>"Siang-siang dari pada ngelamun dirumah, mending jalan ke Taman Bungkul ahh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarpun panas terik, dan tanda waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB, Saya nekat aja berangkat ke taman yang jaraknya cuman satu kilometer dari rumah. Seperti biasa, atribut yang dibawa juga itu-itu aja. Kamera berlabel Olympus E-300 dan lensa manual 50mm yang setia nempel dibodi kamera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Greeengggg.........." Suara motor yang riuh menandakan Saya -ready to go- ke lokasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dilihat dari lamanya perjalanan, antara rumah Saya yang terletak dikawasan kumuh Bumiarjo (dekat dengan terminal Joyoboyo) menuju Bungkul, cuman memakan waktu kurang dari 10 menit. Itupun, sepeda motor cuman Saya pacu dengan kecepatan sekitar 50 km/jam. Slowly bute sure, kata orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah Taman Bungkul dari hari ke hari kok ramai aja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat puluhan sepeda motor berjejer. Tapi setelah diamati lebih detail, bukan hanya motor kelihatannya. Mobil-mobil juga berjajar rapi. Maklum, sekarang khan jam makan siang, jadi orang-orang kantoran yang tempat kerjanya deket ama Bungkul, lebih memilih makan disana. Selain buat nongkrong asik, menu yang ditawarkan juga beragam (ciee kayak iklan aja nih ngomongnya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu motor Saya parkir, kamera langsung dikeluarkan dari tasnya. Lumayanlah, jalan-jalan sekaligus melatih insting fotografi. Karena kalau pengen jadi seorang fotografer jurnalis yang handal, minimal Saya harus peka terhadap obyek. Nah, kepekaan itu harus senantiasa Saya asah lewat hunting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pas lima menit di area Bungkul, telinga Saya merasakan hal yang sedikit "aneh".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Begadang Jangan Begadang," begitu bunyi yang muncul di speaker yang terpasang diarea Bungkul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai pada puncaknya, sudah sekitar satu jam-an Saya berada disana, nampaknya Bang Haji masih getol juga berdendang. "Shit! dimana nih kantor tempat pemutar musiknya," batin Saya. Bukannya anti musik dangdut, bukan juga anti ama Bang H. Rhoma, tapi operator musik nampaknya udah bener-bener keterlaluan. Sudah melupakan selera pasar yang kebetulan berada dilokasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dilihat dari pakaian para pengunjung Bungkul, muda-mudi yang wira-wiri bawa papan skateboard suka dengan musiknya Simple Plan, New Found Glory, atau mungkin Good Charlotte. Sementara yang agak dewasa dan berpakaian rapi jali, keliatannya pecinta Letto, Tompi, atau mungkin musik-musik yang sedikit beraroma Acid Jazz. Sementara Saya sendiri yang notabene juga penyiar (nggak kondang) disalah satu stasiun radio terkemuka di Surabaya, merupakan penikmat segala jenis musik easy listening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi kalau dilihat dari betapa heterogennya selera musik para pengunjung Taman Bungkul, seharusnya si-operator musik tidak hanya memutar Bang Rhoma kesayangannya. Oh Good, dua jam sudah Saya ngendon di Taman Bungkul, tapi si-operator nampaknya masih asik dengan selera pribadinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya...ya...ya...daripada emosi dan nggak jadi hunting karena memikirkan ke"egoisan" si-operator, Saya memilih untuk cabut dari taman kesayangan Saya ini. Wahai Dinas Pertamanan dan Kebersihan Kota Surabaya, mengapa kau pilih operator orkes dangdut untuk menjaga Taman Bungkul.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4560282665706213002-3189337764479931741?l=ceritalensa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritalensa.blogspot.com/feeds/3189337764479931741/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4560282665706213002&amp;postID=3189337764479931741&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/3189337764479931741'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/3189337764479931741'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritalensa.blogspot.com/2007/10/ocehan-si-bejo-bang-rhoma-oh-bang-rhoma.html' title='Ocehan si-Bejo: &quot;Bang Rhoma Oh Bang Rhoma&quot;'/><author><name>Portraits and Photo Story</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14863786762209787106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4560282665706213002.post-3459145376145444590</id><published>2007-10-28T02:01:00.000-07:00</published><updated>2007-10-28T05:14:21.184-07:00</updated><title type='text'>Sumpah Pemuda, (Semangatmu) Dulu dan Kini</title><content type='html'>Sumpah Pemuda yang sudah diucapkan sejak 28 Oktober 1928, hingga kini (2007) masih juga diperingati. Wajib, karena dari momen inilah, tonggak persatuan bangsa tercipta. Sifat kesukuan, kedaerahan, hingga cinta golongan, kala itu melebur dengan terucapkan sumpah sakti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, di era Soekarno, Sjahrir, dan para nasionalis bangsa, terucapnya Sumpah Pemuda menjadi pematik semangat kesatuan yang luar biasa ampuh. Maklum, kala itu situasi perjuangan sedang menyelimuti bangsa Indonesia. Sudah berabad-abad, merah-putih berada dibawah kungkuangan bangsa asing. Sehingga keinginan untuk merdeka yang bisa diwujudkan melalui persatuan dan kesatuan, menjadikan sumpah pemuda sebagai momentum yang ditunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu cerita dulu. Cerita saat Meneer-meneer atau para tentara Jepang berkuasa di negeri ini dengan semena-mena. Sekarang, situasi sudah sangat jauh berbeda. Kemerdekaan sudah diraih selama 62 tahun. Meski 62 tahun bukan waktu yang lama untuk berdirinya sebuah negara, namun dinamika kehidupan tentu bergulir dikurun waktu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dulu kita tidak pernah melihat bagaimana wujud pesawat televisi, sekarang jangankan pesawatnya, stasiun televisinya sudah ada puluhan. Di era perjuangan, penyebaran informasi terkadang hanya lewat diskusi-diskusi kelompok, jurnal yang terbitnya (kadang) dua bulan sekali, tapi sekarang kita bisa mengakses informasi kapanpun. Bisa lewat radio, televisi, sampai internet yang bisa kita akses lewat handphone kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan yang jauh antara situasi Indonesia di era Soekarno dengan era sekarang, tentu membuat semangat Sumpah Pemuda yang dimiliki bangsa ini jelas berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana agar semangat Pemuda itu tetap menyala di era sekarang? Jawabnya sangat gampang. "Jangan menuntut pemuda-pemuda sekarang, bertindak seperti nasionalis-nasionalis masa lalu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaman yang sudah berubah inilah yang tidak memperbolehkan kita menuntut hal yang sama seperti era dulu. Sekarang yang kita tuntut dari pemuda Indonesia adalah, apa kreasi yang sudah kamu buat untuk bangsa ini. Dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat, dan semakin mudahnya akses informasi, harusnya pemuda-pemuda saat ini lebih mudah menciptakan kreasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling tidak, yang kita butuhkan adalah, kreasi-kreasi murni karya anak negeri. Kreasi yang asli Indonesia, dan demi kemajuan bangsa ini. Di Jepang contohnya, teknologi sudah luar biasa maju. Serbuan musisi-musisi barat ke Jepang juga terus dilakukan. Pemuda Jepang juga sama dengan pemuda Indonesia, sama-sama mengenal Linkin Park, Britney Spears, yang notabene berasal dari Amerika. Namun, Jepang yang memiliki semangat nasionalisme tinggi, tidak mau musik bangsanya kalah dengan barat. Sangking cintanya pada negara, Jepang memiliki musik khas (dan modern) seperti J-Pop, J-Rock dan J yang lainnya. J adalah Japanesse. Jika anda mendengarkan musiknya 100% berbeda dengan musik barat, meskipun sama-sama dibalut dalam ramuan modern.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identitas inilah yang kita cari dari bangsa ini. Identitas yang diwujudkan dalam sebuah karya, bahkan karya yang spektakuler, namun memiliki efek positif bagi kemajuan bangsa ini. Identitas inilah yang rasanya sudah semakin hilang dan luntur. Bisa jadi, karena kita terlalu gampang menelan mentah-mentah budaya barat, suka menyerap teknologi dengan instant, sehingga kita jarang berkreasi, apalagi berkreasi untuk bangsa ini. Mari kita cari identitas bangsa ini bersama-sama. Caranya, adalah dengan berkreasi untuk bangsa ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4560282665706213002-3459145376145444590?l=ceritalensa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritalensa.blogspot.com/feeds/3459145376145444590/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4560282665706213002&amp;postID=3459145376145444590&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/3459145376145444590'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/3459145376145444590'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritalensa.blogspot.com/2007/10/sumpah-pemuda-semangatmu-dulu-dan-kini.html' title='Sumpah Pemuda, (Semangatmu) Dulu dan Kini'/><author><name>Portraits and Photo Story</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14863786762209787106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4560282665706213002.post-5135476853824269962</id><published>2007-10-13T12:23:00.000-07:00</published><updated>2007-10-13T12:27:02.025-07:00</updated><title type='text'>Lumpur "Membinasakan" Mereka</title><content type='html'>Lumpur Panas Lapindo yang meluber di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, sudah terjadi selama 1 tahun 200 hari. Belum ada tanda-tanda yang menunjukkan lumpur akan berhenti. Tiga desa dan 1 perumahan telah tenggelam karena arus semburan tak kunjung berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dampak semburan juga sudah sangat meluas. Saya mengunjungi tempat ini tiga kali. Pertama, sekitar seminggu pasca melubernya lumpur pertama kali. Kedua, sekitar akhir 2006. Dan yang terakhir 10 Oktober 2007 jelang Idul Fitri 1428 H.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kurun waktu yang bisa dibilang tidak lama, dampak semburan sangat terasa. Contoh, saat berkunjung tahun 2006 saya masib bisa melihat sebuah pabrik berdiri megah. Namun, 10 Oktober lalu, pabrik itu telah hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siring sebagai desa terdekat dengan pusat semburan, saat ini sudah tidak berbentuk. Bahkan saya menyebutnya sebagai desa mati. Memang para warganya sudah mengungsi ke pasar baru Porong. Beberapa juga sudah menetap di tempat tinggal baru. Namun saat saya merayap ditengah-tengah desa itu, saat kaki saya menginjak lumpur yang sudah "agak" mengering, hawa magis menyelimuti perasaan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti ada sebuah kesedihan dan kegalauan yang dalam. Saya sungguh merasakan betapa sakit hatinya mereka yang kehilangan rumah akibat keserakahan segelintir orang. Betapa marah mereka, karena sampai saat ini proses ganti-rugi juga berbelit dan menyusahkan mereka sebagai korban. Benar-benar sudah jatuh, masih tertimpa tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk merasakan, bagaimana suasana berjalan di Siring yang saya sebut sebagai desa mati, silahkan berkunjung ke Personal gallery saya di: &lt;a href="http://www.bumiarjo.deviantart.com/"&gt;www.bumiarjo.deviantart.com/&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4560282665706213002-5135476853824269962?l=ceritalensa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritalensa.blogspot.com/feeds/5135476853824269962/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4560282665706213002&amp;postID=5135476853824269962&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/5135476853824269962'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/5135476853824269962'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritalensa.blogspot.com/2007/10/lumpur-membinasakan-mereka.html' title='Lumpur &quot;Membinasakan&quot; Mereka'/><author><name>Portraits and Photo Story</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14863786762209787106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4560282665706213002.post-4622450695342380938</id><published>2007-10-10T11:26:00.000-07:00</published><updated>2007-10-10T11:29:55.895-07:00</updated><title type='text'>Mencuri Emosi Manusia Lewat Portrait</title><content type='html'>Foto hanyalah selembar kertas yang bergambar. Medium dua dimensi, tanpa gerak, dan tanpa kata-kata. Lalu bagaimana kita mencuri emosi lewat foto? Gampang! cobalah memotret di genre Portrait&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Portrait atau potret merupakan genre tertua dalam dunia fotografi. Bahkan kalau kita telusuri potret dari sudut pandang sejarah lukisan, potret sudah ada sejak era Fir'aun pada 3000 SM. Saat itu, para pelukis sangat gemar menjadikan raja sebagai obyeknya. Dan sang raja-pun juga menikmati hasil karya pelukisnya. Kepala besar, dengan bentuk badan berorot merupakan ciri lukisan potret kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada abad ke 5 SM, pelukis Yunani juga menggemari genre potret. Sama dengan pelukis Mesir, di Yunani mereka juga menggambarkan raja-rajanya lebih indah dari aslinya. Namun saat era Romawi, para pelukis lebih berani memasukkan subyektifitasnya. Di era ini muncullah nama-nama seperti: Da Vinci, bahkan sampai Vincent Van Gogh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potret secara definisi hanyalah gambar (atau foto) manusia. Tapi dalam dunia fotografi, seorang fotografer harus bisa mendeskripsikan aura obyek kepada penikmat fotonya. Tidak gambang memang melakukan tugas ini, karena foto potret biasanya cenderung memiliki visualisasi yang itu-itu saja. Setengah badan, tersenyum, atau pose yang kaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi disinilah tugas besar fotografer. Mencuri emosi obyek kemudian menceritakannya kepada penikmat foto. Kunci yang harus dipegang adalah: komunikasi. Dengan mengenal karakter obyek potret, maka fotografer akan dapat merekam emosinya. Komunikasi yang paling dasar adalah berbasa-basi dengan calon obyek kita. Sedikit lebih dalam adalah mengetahui namanya atau bahkan pekerjaannya. Menyelami lebih dalam lagi, dengan membaca sifat-sifatnya, bagaimana keluarganya, atau bahkan kita "hidup-bersama" obyek kita dalam sehari atau dua hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai referensi mencuri emosi manusia, kita bisa mencobanya dengan mengamati karya-karya besar fotografer dunia yang sudah dipasang di banyak museum. Sebagai referensi, simak saja karya: Richard Avedon, Arnold Newman, sampai Phil Borges. Dan yang tidak kalah pentingnya, kita wajib membaca cerita dibalik foto-foto mereka. Apa saja yang mereka lakukan, sebelum mencuri emosi obyek foto mereka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4560282665706213002-4622450695342380938?l=ceritalensa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritalensa.blogspot.com/feeds/4622450695342380938/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4560282665706213002&amp;postID=4622450695342380938&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/4622450695342380938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/4622450695342380938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritalensa.blogspot.com/2007/10/mencuri-emosi-manusia-lewat-portrait.html' title='Mencuri Emosi Manusia Lewat Portrait'/><author><name>Portraits and Photo Story</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14863786762209787106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4560282665706213002.post-663724725013667004</id><published>2007-09-26T09:08:00.000-07:00</published><updated>2007-09-26T09:12:39.990-07:00</updated><title type='text'>JALUR KHUSUS SEPEDA, SOLUSI PENCEMARAN</title><content type='html'>Pencemaran udara di Surabaya semakin hari semakin mengkhawatirkan. Sebagai indikator, adalah perbedaan suhu udara pada siang hari yang sangat panas dengan suhu udara malam hari yang dingin. Suhu siang hari dapat mencapai 39 derajat celsius (atau lebih), sementara saat malam bisa 26 derajat celsius. Memanasnya kota Surabaya pada siang hari, merupakan efek dari tingginya emisi gas buang. Kajian Ekologi Lahan Basah pernah merilis informasi, bahwa karbon monoksida (CO) sebagai gas buangan dari kendaraan bermotor, menyumbang polusi tertinggi dengan jumlah  5.480.000 ton/tahun. Jika merujuk data ini, berarti banyaknya jumlah kendaraan dan macet saat jam berangkat-pulang kantor merupakan salah satu penyebabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemakai kendaraan bermotor di Indonesia memang sangat tinggi. Berdasarkan data yang dikeluarkan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), angka penjualan sepanjang Januari hingga Juni 2007 mencapai 197.642 unit. Bila dibandingkan dengan penjualan periode yang sama 2006 yang sebesar 149.632 unit, maka terjadi peningkatan penjualan sebesar 32%. Sebuah angka yang fantastis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika penyumbang polusi di Surabaya adalah emisi gas buang kendaraan bermotor, apakah solusi dalam mengatasi pencemaran udara adalah dengan mengurangi asapnya? Lalu bagaimana caranya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mensosialisasikan Peran Sepeda di Masyarakat Dengan Menghapus Stigmanya&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini, tepatnya 09 September 2007, digelar sebuah kampanye yang bertema "Bike to Work Day" yang digelar secara nasional diseluruh Indonesia. Kampanye ini mengajak kita untuk memanfaatkan sepeda sebagai salah satu solusi: mengatasi polusi, menghemat BBM, dan menyehatkan tubuh. Bayangkan jika separuh dari pengguna sepeda motor di Surabaya beralih menggunakan sepeda saat berangkat kantor, berapa liter BBM yang bisa dihemat, berapa banyak polusi udara yang bisa kita kurangi. Apalagi kalau penggunaan sepeda ke kantor ini bukan satu-dua hari, melainkan setiap hari. Surabaya akan terbebas dari polusi, dan bisa menghemat BBM berliter-liter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski konsep dari kampanye ini sangat bermanfaat, tapi tidak gampang membuat masyarakat mencintai sepeda. Apalagi stigma masyarakat terhadap sepeda adalah simbol kemiskinan. Mereka yang menggunakan sepeda, selalu dicap sebagai orang miskin. Miskin karena tidak mampu membeli motor, lalu naik sepeda. Bahkan saking diskriminatifnya, salah seorang teman penggemar sepeda pernah mengeluh karena sulitnya mendapat tempat parkir untuk sepedanya saat hendak belanja di salah satu plasa di Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa salah orang pergi ke plasa naik sepeda? Di dalam kota Muenster, Jerman, banyak gang yang memang hanya diperuntukkan untuk para pejalan kaki dan para pemancal sepeda. Di gang-gang seperti di Prinzipalmarkt, Roggenmarkt, Salzstrasse, Ludgeristrasse dan gang lainnya yang masuk dalam zona pusat kota adalah zona pejalan kaki dan zona sepeda. Yang datang dengan mobil jangan berharap bisa menikmati tempat-tempat tersebut dari dalam mobil. Semua wajib jalan kaki atau naik sepeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stigma sepeda hanya konsumsi orang miskin harus dihapus. Karena dari sudut pandang nominal, harga sepeda banyak yang jauh lebih tinggi dari motor. Di pasaran bahkan ada sepeda seharga sekitar Rp 60 juta per unit. Industri sepeda juga mengeluarkan model-model baru dengan sentuhan inovasi-inovasi terkini, sehingga nyaman dikendarai. Bahan kerangkanya tidak hanya terbuat dari besi atau campuran baja seperti zaman dulu. Sekarang kerangka sepeda berasal dari bahan-bahan yang eksotis, seperti titanium, aluminium, dan serat karbon. Beratnya lebih ringan, tetapi lebih kuat dibandingkan dengan sepeda-sepeda dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai gambaran, adalah komunitas MTB Indonesia. Penggemar sepeda gunung atau MTB pada umumnya orang- orang mapan yang mempunyai penghasilan lumayan. Para biker yang masuk dalam kelompok MTB Indonesia umumnya berpendidikan dan berpenghasilan memadai untuk kebutuhan hidupnya. Artinya, sepeda bukan konsumsi orang miskin!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Memfasilitasi Pecinta Sepeda Dengan Jalur Khusus Sepeda&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah penggemar (atau pemilik) sepeda di Indonesia terhitung cukup banyak. Banyak komunitas sepeda bertebaran di berbagai kota. Ada penggemar sepeda gunung, penggemar extreme sport dengan BMX, sampai penggemar sepeda kuno atau sepeda onthel. Meski banyak pecinta sepeda, namun eksistensi mereka belum sepenuhnya bisa dirasakan masyarakat. Komunitas ini biasanya rutin terlihat di akhir pekan seperti Sabtu-Minggu, selebihnya jarang. Bisa jadi karena kesibukan dari anggotanya yang cukup tinggi, atau karena infrastrukstur pendukung yang kurang memadai sehingga anggota komunitas sepeda ini enggan turun ke jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah contoh kasus adalah rencana dari Pemerintah Propinsi DKI Jakarta yang akan membuat jalur khusus sepeda, kalau animo masyarakat terhadap penggunaan sepeda meningkat. Dari rencana ini kemudian muncul pertanyaan, "Apakah rendahnya animo masyarakat dalam menggunakan sepeda karena tidak didukung infrastruktur? atau sebaliknya, tidak adanya infrastruktur karena tidak terlihatnya animo masyarakat terhadap sepeda? (Sebaiknya jangan bingung, karena pertanyaan ini hampir sama dengan pertanyaan duluan mana telur atau ayam)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain Muenster dan Armsterdam, Bogota juga merupakan surga bagi penggemar sepeda. Warga kota ini sangat membanggakan jalur khusus sepeda yang mereka miliki dan akrab disebut Cyclorrutas. Setiap hari Minggu misalnya, sepanjang 153 kilometer jalan raya dijadikan jalur khusus sepeda. Jalanan sepanjang itu tertutup untuk angkutan bermotor dan hanya diperbolehkan untuk pejalan kaki, pesepeda atau peseluncur dengan skateboard dan sepatu roda. Itu belum termasuk jalur khusus sepeda yang telah terbangun sepanjang 270 km. Jalur sepeda sepanjang itu, diklaim sebagai jalur khusus sepeda terpanjang di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah kota Bogota berniat keras mengurangi polusi kotanya dan meningkatkan pengguna kendaraan non-bermotor di kotanya. Upaya ke arah itu dilakukan secara terencana dengan berbagai langkah yang jelas dan sistematis. Salah satunya adalah dengan terciptanya Cyclorrutas atau Jalur khusus sepeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat berlebihan memang kalau Surabaya harus meniru Muenster, Armsterdam atau bahkan Bogota. Sangat tidak adil jika memaksa pemerintah kota untuk meniru mereka. Tapi, keberadaan Jalur khusus sepeda di Surabaya memang perlu. Bayangkan, berapa banyak pengguna mobil dan motor yang kesal dijalan, karena ada pengguna sepeda yang tiba-tiba nyelonong. Atau dari sudut pandang pengguna sepeda, sudah berapa banyak dari mereka yang kesal karena dimaki pengguna motor/mobil atas kesalahan yang tidak mereka lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak perlu menjawab pertanyaan klise duluan mana telur atau ayam. Atau memperdebatkan soal perlu tidaknya jalur khusus ini. Kita hanya butuh action pemerintah kota mewujudkan jalur khusus sepeda. Karena dengan adanya jalur ini, secara otomatis akan memunculkan para pengguna sepeda. Dari sini sosialisasi peran sepeda bagi masyarakat bisa terwujud. Semakin banyak para pengguna sepeda, maka sedikit demi sedikit akan terkikis stigma bahwa sepeda hanya konsumsi orang miskin. Bahkan semakin banyak yang memanfaatkan sepeda untuk berangkat ke kantor, bukan sesuatu yang mustahil cita-cita kita untuk mengurangi polusi udara di Surabaya akan tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;dipublikasikan Metropolis Jawapos, 26/09/07&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4560282665706213002-663724725013667004?l=ceritalensa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritalensa.blogspot.com/feeds/663724725013667004/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4560282665706213002&amp;postID=663724725013667004&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/663724725013667004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/663724725013667004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritalensa.blogspot.com/2007/09/jalur-khusus-sepeda-solusi-pencemaran.html' title='JALUR KHUSUS SEPEDA, SOLUSI PENCEMARAN'/><author><name>Portraits and Photo Story</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14863786762209787106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4560282665706213002.post-3574232819052824297</id><published>2007-08-28T09:02:00.000-07:00</published><updated>2007-08-28T09:25:54.150-07:00</updated><title type='text'>MONUMEN-MONUMEN YANG TERABAIKAN</title><content type='html'>Surabaya dengan statusnya sebagai Kota Pahlawan, memang sudah lengkap dengan masih tersisanya Cagar Budaya dan berdirinya Monumen Perjuangan di beberapa lokasi. Dinas Kebersihan dan Pertamanan Pemerintah Kota Surabaya mencatat, setidaknya ada 26 Monumen berdiri kokoh di kota ini. Namun sayang memang, jumlah yang cukup besar itu, tidak memiliki arti apapun bagi kemajuan Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya apa arti dari Monumen? Dalam istilah Jerman, Monumen atau “Denkmal“, secara harifiah memiliki fungsi yang utama, yakni menjadi sebuah simbol dalam ruang publik yang mengajak orang untuk berpikir (denken), dan memberikan petunjuk-petunjuk kepada jejak sejarah. Dengan berdirinya suatu Monumen, diharapkan mampu mendorong para pengunjungnya untuk merefleksikan peristiwa sejarah, menjadi motivasi di kehidupan sehari-hari. (Goethe Institute)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merujuk pada definisi tersebut, jika Pemkot cukup jeli memanfaatkan peluang, maka berdirinya simbol-simbol perjuangan tersebut bisa mendatangkan dua manfaat. Pertama, sebagai sumbangsih sejarah dalam kurikulum pendidikan berbasis kompetensi. Kedua, membangkitan pariwisata Surabaya yang belum menemukan jati-dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Monumen dan Pendidikan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai saksi bisu perjuangan, Monumen dibangun atas dasar penghormatan terhadap jasa-jasa para pahlawan yang berjuang dimasanya. Struktur bangunan Monumen, biasanya khas dan cenderung sama, yakni sebuah simbol dan beberapa pahatan yang menggambarkan kejadian peperangan saat itu. Struktur bangunan ini, hampir sama dengan candi-candi yang dibangun di jaman Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggambaran yang simbolik ini, bisa dijadikan bahan dalam mata pelajaran sejarah. Para pendidik bisa memanfaatkan hari Sabtu (atau Minggu) untuk mengajak para siswa mengunjungi monumen-monumen perjuangan ini. Setidaknya selain memahami sejarah nasional, para siswa (di Surabaya) juga memahami sejarah kotanya. Tidak perlu sekaligus mengunjungi ke-26nya, tapi bisa di bagi berdasarkan kedekatan lokasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Monumen dan Pariwisata&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surabaya sebagai kota transit, sampai sekarang dianggap belum mampu menjadi tempat tujuan wisata utama bagi para wisatawan. Padahal sejak Surabaya Tourism and Promotion Board dicanangkan pemerintah pada Mei 2005 lalu, Pemkot terus berupaya menggali potensi wisata yang ada di Surabaya. Sebagai Kota Pahlawan, semestinya Surabaya tidak kehilangan "Jati-dirinya". Tentunya Pemkot bisa mendeskripsikan sebutan Kota Pahlawan, dengan mengelola Cagar Budaya dan Monumen Perjuangan, karena menjadikan Monumen sebagai daya tarik pariwisata sudah dilakukan berbagai negera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tembok Berlin, Jerman bisa jadi merupakan simbol tragedi kemanusian yang membagi kota Berlin menjadi dua, Berlin Barat dan Timur dibangun semasa perang dingin. Sudah banyak jiwa melayang akibat ingin menyeberangi tembok ini. Kini, setelah tembok Berlin runtuh dan menyatukan kota dan masyarakat Berlin, ada beberapa bagian temboknya yang sengaja dibiarkan sebagai saksi sejarah dan monumen tragedi kemanusiaan yang patut dikenang umat manusia di bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain, Ground Zero 9/11 di Amerika. Meski lampu sorot yang menembus langit hanya menyala setahun sekali saat peringatan 11 September berlangsung, namun puing-puing reruntuhan dan foto-foto para korban keganasan teroris yang terpampang di Ground Zero, tetap memiliki nilai jual dimata Internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan Surabaya? Pemkot bisa memulainya dengan mengelola sebuah paket perjalanan wisata seperti "Refleksi Perjuangan Arek-Arek Suroboyo", mengingat kota ini dikenal dengan perjuangannya melawan tentara Sekutu. Jadi peristiwa perobekan bendera di hotel Yamato (hotel Majapahit) sampai terbunuhnya Jendera Mallaby bukan cuma dinikmati melalui diorama yang ada didalam Tugu Pahlawan, tapi semua peristiwa sejarah itu diwujudkan dalam sebuah paket perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadikan 26 Monumen Perjuangan sebagai salah satu daya tarik wisata, mungkin tidaklah terlalu sulit. Karena kenangan yang menyertainya tidak semata-mata milik warga Surabaya, tetapi sudah mendunia menjadi milik orang Belanda, Jepang, sampai Inggris. Tidaklah juga terlalu sulit untuk "menawarkan" objek ini kepada turis, asalkan ada fokus pengelolaan dari Pemkot Surabaya. Bukankah dengan mendatangkan wisatawan ke kota ini, otomatis Pemkot mendapat pemasukan untuk memelihara monumen-monumen tersebut. Datangnya wisatawan, sama juga dengan bertiupnya angin bagi sejarah perjuangan kota ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dipublikasikan di Metropolis Jawapos 28/08/07&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4560282665706213002-3574232819052824297?l=ceritalensa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritalensa.blogspot.com/feeds/3574232819052824297/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4560282665706213002&amp;postID=3574232819052824297&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/3574232819052824297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/3574232819052824297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritalensa.blogspot.com/2007/08/monumen-monumen-yang-terabaikan.html' title='MONUMEN-MONUMEN YANG TERABAIKAN'/><author><name>Portraits and Photo Story</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14863786762209787106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4560282665706213002.post-7339272017851298581</id><published>2007-08-01T15:16:00.001-07:00</published><updated>2007-08-01T15:18:30.200-07:00</updated><title type='text'>BERWISATA DI PADANG GOLF A.YANI</title><content type='html'>Lega rasanya setelah membaca berita Jawa Pos (13/12) yang menyebutkan kalau rencana tukar guling lahan Golf A.Yani dibatalkan. Bukan kenapa, pasalnya meski disebut-sebut sudah banyak di lupakan orang, lapangan Golf yang berdiri luas di tengah kota ini sangat penting bagi kelangsungan kota Surabaya. Banyak potensi hebat yang memang terlupakan di tempat ini. Bayangkan, dari lokasi hijau yang berluas 58 hektare itu, ternyata tersimpan nilai sejarah yang luar biasa. Lapangan Yani Golf (begitu masyarakat sekitar menyebutnya) adalah saksi bisu sejarah masa lalu Surabaya yang patut di pertahankan. Di tengah-tengah lahan ini, berdiri makam mantan Residen Surabaya Frederick Jacob Rothen Bahler yang meninggal pada 1836. Belum lagi keberadaan Monumen TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar) yang berdiri di lokasi tersebut. Dengan demikian, seperti pernyataan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Trowulan, siapapun yang melanggar (menjual, Red) lokasi ini, bisa dijerat dengan pasal-pasal yang diatur dalam UU No 5 Tahun 1992 tentang Cagar Budaya (JP-13/12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu Padang Golf A.Yani adalah ruang terbuka hijau yang sangat menbantu sirkulasi udara di kota ini, selain Kebun Binatang Surabaya dan Kebun Bibit Bratang. Saat ini, sekitar 40 persen dari total lahan lapangan golf A. Yani itu adalah pepohonan. Selebihnya, yang 60 persen adalah padang rumput. Di antara pepohonan itu, tidak sedikit yang usianya sudah lebih dari 100 tahun. Sekitar 70 jenis pohon tumbuh di sana. Antara lain, trembesi, akasia, dan asam.(JP-13/12). Sungguh sangat mengkhawatirkan, kalau lahan luas hijau dan penting bagi penyerapan air ini, tiba-tiba berubah fungsi menjadi pemukiman. Sudah bisa dipastikan, kawasan-kawasan sekitar Padang Golf A.Yani akan tenggelam. Masih berdiri megah saja, jalan-jalan seperti: Kutai, Ciliwung, Opak, Indragiri, dan Mayjen kerap mengalami banjir, apalagi jika lahan 58 hektar ini berubah gundul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya ada momori masa kecil yang sering terlintas ketika mengingat lapangan golf ini. Letaknya yang dekat dengan daerah pemukiman penduduk, membuat saya sering bermain di daerah tersebut. Berbekal sepeda, saya bersama teman-teman masa kecil dulu sering mendaki Yani Golf masuk dari daerah perkampungan. Kebetulan pagar pembatas antara pemukiman dan Yani Golf waktu itu berlubang sangat besar. Nah, yang paling saya ingat dari tempat ini, adalah tanah api seperti tanah pegunungan yang mengeluarkan belerang. Tanah disana bisa terbakar saat di sulut dengan korek, jelas saja saya bersama teman-teman kala itu sangat heran sekaligus senang. Akibatnya, aktifitas bakar ketela atau jagung tidak pernah terlewatkan ketika kami bermain disana. Dari sedikit memori yang saya ingat ini, akhirnya muncul sebuah gambaran ideal tentang pemanfaat lahan Golf A.Yani sebagai tempat kunjungan wisata selain sebagai sarana olah raga golf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah anda berkunjung ke sebuah kebun raya? mungkin menjadikan lahan hijau ini sebagai kebun raya sekaligus sebagai lapangan golf sungguh adil rasanya mengingat potensi alam yang sangat kuat di daerah ini. Bayangkan, dengan adanya kebun raya, anda masih bisa menikmati kicau burung di sore hari sembari menikmati gurih dan manisnya kue nanas bikinan istri, meski Surabaya masih bergeliat dengan padatnya aktifitas yang tidak pernah berhenti. Tentu saja hal itupun juga perlu pengelolaan yang memadai sedemikian rupa, karena jangan sampai anda yang sedang enjoy menikmati liburan di kebun tengah kota tiba-tiba terkena bola golf yang nyasar. Sungguh sebagai seorang yang sangat mencintai fotografi, keberadaan padang golf A.Yani adalah lokasi yang indah. Anda bisa tanyakan kepada rekan anda yang mencintai fotografer dan pernah ikut lomba foto di padang golf (saat itu Jawa Pos adalah salah satu penyelenggaranya). Di tempat tersebut, anda bisa melihat savana yang menghampar luas, bahkan beberapa meter persegi diantaranya masih terasa basah. Pohon-pohon yang berusia tua juga tampak berjajar menghiasi padang golf ini. Tentunya kalau anda pernah berkunjung ke daerah wisata alam Bromo-Tengger, maka anda akan merasakan atmosfir yang sama antara Padang Golf A.Yani dan kawasan wisata Ranu Kumbolo. Selain hamparan rumput yang luas dan teksture tanah yang bergelombang, udaranya juga sama sejuknya. Mungkin yang menjadi pembeda adalah keberadaan danau dan hawa dingin, namun jika nuansa ataupun pohon-pohonnya, sangat mirip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan melihat bahwa Padang Golf A.Yani menyimpan potensi yang begitu besar, bukan hanya soal sejarah ataupun lahan hijau, melainkan potensi wisata yang sangat menyenangkan, maka wajib hukumnya kalau pemerintah memperhatikan lebih dalam kekuatan daerah ini. Daripada menjadikannya kawasan pemukiman elit nan megah khas metropolis, namun lupa bahwa hal itu bisa jadi akan membuat tenggelam (banjir) daerah di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;**pernah di publikasikan di Metropolis/Jawa Pos, Februari 2007&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4560282665706213002-7339272017851298581?l=ceritalensa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritalensa.blogspot.com/feeds/7339272017851298581/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4560282665706213002&amp;postID=7339272017851298581&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/7339272017851298581'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/7339272017851298581'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritalensa.blogspot.com/2007/08/berwisata-di-padang-golf-ayani_01.html' title='BERWISATA DI PADANG GOLF A.YANI'/><author><name>Portraits and Photo Story</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14863786762209787106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4560282665706213002.post-8018323636257384802</id><published>2007-08-01T15:14:00.000-07:00</published><updated>2007-08-01T15:16:11.777-07:00</updated><title type='text'>TERMINAL TUJUH LANTAI, SOLUSI ATAU MASALAH BARU?</title><content type='html'>Rencana Pemerintah Kota Surabaya yang akan mengembangkan Terminal Joyoboyo menjadi bangunan tujuh lantai merupakan sebuah ide yang sangat menarik. Konsep mengawinkan terminal sebagai pengendali angkutan umum dan Mal sebagai tempat belanja menjadi suatu hal yang bisa memacu pertumbuhan wilayah. Dalam gambaran yang terlintas di kepala saya, Terminal Joyoboyo akan menjadi tempat yang sangat padat dan vital. Padat karena Joyoboyo yang sebelumnya hanya menjadi tempat singgah sementara bagi mereka pengguna angkutan umum, nantinya akan menjadi jujugan juga bagi penikmat belanja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hal yang harus di perhatikan sebelum benar-benar mengubah wajah terminal joyoboyo. Seperti kita tahu kalau terminal adalah pusat pengendali kendaraan-kendaraan umum, baik yang akan berangkat, sedang menunggu penumpang, dan yang baru saja datang. Tentunya dalam terminal ada banyak angkutan kota dengan berbagai jurusan yang tentu saja jumlahnya bisa ratusan bahkan ribuan. Artinya, terminal merupakan salah satu penyumbang polusi terbesar di kota. Lantas bagaimana jika nantinya terminal akan berada di dalam gedung. Bagaimana dengan sirkulasi udaranya? bagaimana dengan polusinya? ini merupakan pekerjaan rumah yang harus di pikirkan pemerintah kota Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang polusi tidak ada habisnya, terutama polusi udara. Bisa dikatakan hampir tidak ada kota di dunia ini yang luput dari yang namanya polusi atau pencemaran udara. Udara yang tercemar yang mengepung berbagai kota bisa menyebabkan orang sehat, apalagi orang sakit, masuk rumah sakit. Terlalu banyak kerugian yang ditimbulkan oleh polusi udara. Kota-kota di AS, yang tingkat pencemaran udaranya cenderung jauh lebih rendah dari kota-kota di negara berkembang, kematian akibat pencemaran udara berkisar antara 50.000 hingga 100.000 orang. Polusi udara juga menyebabkan penurunan kecerdasan anak hingga bayi lahir cacat. Padahal seperti kita tahu, Joyoboyo adalah lokasi padat penduduk. Tepat disampingnya, terdapat sekolah, kebun binatang, dan pemukiman warga. Namun masalah polusi masih bisa di siasati, dengan memberikan ruang terbuka hijau disekitar gedung terminal. Minimal 20.000 meter persegi sebagai pengimbang emisi gas buang kendaraan umum yang ada di terminal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah lain yang pasti akan muncul dalam konsep terminal tujuh lantai adalah soal kenyamanan dan kebersihan. Dalam angan-angan saya, bangunan terminal digambarkan berupa gedung tujuh lantai yang ditata sedemikian rupa sehingga mirip mal. Saat pengunjung memasuki lantai IV, berjejer berbagai counter yang menjual beragam barang. Di sana terdapat toko baju hingga gerai telepon seluler serta pernak-perniknya. Deretan toko-toko serupa juga terdapat di lantai V dan VI. Sementara di lantai VII tersedia food court dan gedung bioskop. Dalam angan saya juga tergambar, lantai I, II, dan III tempat kendaraan angkutan umum akan mangkal, terlihat licin dan bersih. Bemo dan bus kotanya juga berjajar rapi serta banyak petugas yang akan mengawasi arus kegiatan di dalam terminal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ini adalah gambaran ideal yang ada dalam angan-angan saya dan beberapa orang yang ingin menjadikan Joyoboyo sebagai terminal terpadu dalam gedung tujuh lantai. Namun kadang kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Bagaimana bisa kita berharap sebuah terminal di dalam gedung menjadi bersih dan tidak kumuh, jika persoalan emisi gas buang dari bus-bus kota masih belum terselesaikan. Dari dulu problem kendaraan umum kita hanya satu, asap knalpotnya selalu mengeluarkan asap hitam yang mengganggu. Mengganggu pernafasan, juga mengganggu karena jika badan kita terkena asapnya maka baju kita akan kotor. Nah itupun sama halnya dengan lantai dan gedung yang akan menjadi tempat mangkal bus atau bemo nantinya, akan menjadi kotor karena asap kendaraan. Problem klasik terminal kita adalah, kondisinya yang kumuh, calo penumpang, pengamen dan pedagang asongan yang silih berganti keluar masuk terminal, arus keluar masuk kendaraan yang semrawut, hingga bau pesing yang mewarnai sudut-sudut terminal (Jawapos/12/02/07).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun untuk memperkuat icon Surabaya sebagai kota metropolis adalah hal yang sah dan patut mendapat apresiasi. Namun jika pembangunan yang pastinya menelan dana miliaran rupiah itu hanya akan sia-sia, karena pemerintah kota tidak juga bisa mengatasi problem klasik sebuah terminal, lantas kenapa kita tidak menata saja apa yang sudah ada saat ini. Solusi dari kesemrawutan sebuah terminal bukan dengan menyulapnya menjadi tempat yang megah dan modern, namun dengan menertibkan disiplin orang-orang yang terlibat didalamnya, mulai dari pengelola, sopir, kernet, bahkan sampai penumpangnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;**pernah di publikasikan di Metropolis/Jawa Pos, Maret 07&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4560282665706213002-8018323636257384802?l=ceritalensa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritalensa.blogspot.com/feeds/8018323636257384802/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4560282665706213002&amp;postID=8018323636257384802&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/8018323636257384802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/8018323636257384802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritalensa.blogspot.com/2007/08/terminal-tujuh-lantai-solusi-atau_01.html' title='TERMINAL TUJUH LANTAI, SOLUSI ATAU MASALAH BARU?'/><author><name>Portraits and Photo Story</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14863786762209787106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4560282665706213002.post-2537660676342469352</id><published>2007-07-31T15:26:00.000-07:00</published><updated>2007-07-31T15:32:16.645-07:00</updated><title type='text'>MENDONGKRAK POTENSI WISATA SURABAYA DENGAN MENJAGA CAGAR BUDAYA</title><content type='html'>Kantor Polwiltabes Surabaya dalam master plan akan menjadi gedung kepolisian termegah kedua di Jawa Timur setelah Mapolda Jatim. Wujud pembangunannya sekarang sudah mulai terlihat, dengan berdirinya gedung baru Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim), Satuan Reserse Narkoba (Satnarkoba), dan Satuan Intelkam Polwiltabes Surabaya. Di kompleks gedung bercat krem tersebut, terdapat ruang tahanan yang cukup luas dan mampu menampung 500 orang.  Pengadaan gedung baru itu menurut Kapolwiltabes Surabaya, Kombespol Anang Iskandar, semata-mata untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Kedepan, jajaran kepolisian Surabaya ini juga akan memiliki gedung berlantai dua puluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sedang giat-giatnya membangun dan mempercantik bangunannya, satu hal yang membuat kita salut adalah komitmen Kapolwiltabes yang tidak akan mengutik-utik bangunan-bangunan peninggalan zaman Belanda yang masih utuh dan hingga saat ini masih menjadi gedung utama. Tentu komitmen ini menjadi sesuatu yang langka, karena pada kenyataannya, tidak sedikit bangunan Cagar Budaya yang kondisinya tak jelas. Jangankan dihindarkan dari kemungkinan perubahan bentuk, bangunan Cagar Budaya malahan dihancurkan dan diganti dengan bangunan baru yang dianggap lebih sesuai dengan kondisi saat ini dengan pertimbangan bisnis, contoh kasus Stasiun Semut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan tidak mungkin, pertumbuhan kota yang pesat, yang ditandai pembangunan fisik seperti ruko dan plasa, menjadi ancaman bagi masa depan Cagar Budaya di Surabaya yang hampir semua berada di lokasi strategis. Ancaman-ancaman terhadap kelestarian situs dan bangunan cagar budaya ini cukup panjang daftarnya. Sebut saja beberapa, misalnya Kompleks Gedung Sentral di Jl.Tunjungan yang berarsitektur unik mestinya bisa menjadi wajah “Soerabaia Tempo Doeloe”, dirobohkan dan kini terbengkalai. Sementara pembangunan gedung baru di Jl Veteran terlihat sama sekali tidak menyatu dengan bangunan berarsitektur kolonial di kawasan itu. RS Mardi Santosa ditutup dan rawan gusur. Beberapa situs serta bangunan lain yang agaknya diincar investor, antara lain Penjara Kalisosok yang sudah diumumkan akan dijadikan mal. Kondisi rawan gusur ini tak akan terpecahkan masalahnya jika Peraturan Daerah (Perda) Cagar Budaya tak kunjung terbit. (&lt;a href="http://www.arsitekturindis.com/"&gt;www.arsitekturindis.com&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, jika sebuah bangunan dikategorikan dalam Cagar Budaya, artinya bangunan-bangunan itu dilindungi dan dilestarikan, serta dihindarkan dari kemungkinan pembongkaran, penghancuran, dan perubahan bentuk. Kata melindungi ternyata sangat pasif, tidak ada upaya pengawasannya, apalagi ikut memelihara. Bahkan bangunan yang tidak laku untuk dikelola, dibiarkan telantar dan rusak dimakan usia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal jika merujuk pada sejarah perjuangan arek-arek Suroboyo, banyak bangunan di kota ini menjadi saksi heroik perjuangan meraih kemerdekaan. Peristiwa 10 Nopember 1945 di Kota Pahlawan menjadi bukti, bahwa banyak bangunan Cagar Budaya menjadi saksi bisu perjuangan warga kota melawan penjajah. Contoh nyata adalah dibangunnya Tugu Pahlawan sebagai wujud penghormatan terhadap jasa pahlawan kita. Cagar Budaya Surabaya yang sudah banyak dikenal, diantaranya, Jembatan  Merah  (Gedung Internatio), sekitar Tugu Pahlawan (Markas Kentepai Jepang / Gedung Raad Van Justitie) dan Hotel Mandarin Majapahit ( Hotel Orange / Hoteru  Yamato ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam daftar bangunan cagar budaya yang tercantum dalam Surat Keputusan (SK) Wali Kota Surabaya Nomor 188.45/251/402.1.04/1996 menyebutkan, 61 bangunan termasuk dalam kategori cagar budaya. Daftar bangunan dalam SK Wali Kota Surabaya Nomor 188.45/207/402.1.04/ 1998 tentang cagar budaya, jumlah bangunan yang disertakan lebih banyak, mencapai 102 unit. Artinya, saat kita kedatangan turis lokal ataupun mancanegara yang akan berkeliling Kota Surabaya, maka tidak sulit sebenarnya untuk menceritakan sejarah kota. Pemkot bisa memanfaatkan bangunan Cagar Budaya yang kita miliki sebagai media penyampaian. Apalagi di beberapa belahan kota, masih ditemukan sisa-sisa masa lalu berupa bangunan kuno. Namun meski jumlahnya bisa mencapai ratusan, namun yang dipastikan terawat baik hanya sebagian saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjaga dan merawat Cagar Budaya bukanlah persoalan yang sia-sia. Disatu sisi, perawatannya mungkin membutuhkan biaya yang tidak sedikit mengingat jumlahnya yang cukup banyak. Namun jika Pemerintah Kota Surabaya memiliki intuisi bisnis yang tajam, maka pengelolaan Cagar Budaya yang benar dan mumpuni bisa membuka lahan baru di dunia pariwisata Surabaya yang kabarnya hanya sebagai kota transit saja. Jika Bali terkenal dengan wisata pantainya, atau kota Roma, Vatikan terkenal dengan wisata religinya, maka Surabaya sesuai dengan sebutannya sebagai kota Pahlawan, akan menjadi besar dengan wisata Cagar Budaya-nya. Bukankah dari dulu kita sudah mengenal istilah “Soerabaia Tempo Doeloe” yang identik dengan nilai hostoris dan arsitektur kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;**pernah dipublikasikan di JP/Metropolis 23/07/07&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4560282665706213002-2537660676342469352?l=ceritalensa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritalensa.blogspot.com/feeds/2537660676342469352/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4560282665706213002&amp;postID=2537660676342469352&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/2537660676342469352'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/2537660676342469352'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritalensa.blogspot.com/2007/07/mendongkrak-potensi-wisata-surabaya.html' title='MENDONGKRAK POTENSI WISATA SURABAYA DENGAN MENJAGA CAGAR BUDAYA'/><author><name>Portraits and Photo Story</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14863786762209787106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4560282665706213002.post-4535276056822479845</id><published>2007-07-31T14:35:00.000-07:00</published><updated>2007-10-10T11:46:01.544-07:00</updated><title type='text'>TENTANG ceritalensa.blogspot.com</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;&lt;strong&gt;Cerita Lensa adalah emosi pribadi saya. Meski saat ini profesi saya adalah penyiar di Radio Mercury Surabaya, namun ketertarikan akan dunia fotografi mengalahkan kecintaan saya pada dunia radio dan tulis menulis.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Courier New;"&gt;Rutinitas sehari-hari dalam pekerjaan, suatu ketika mencapai titik jenuh. Di saat itulah, fotografi muncul sebagai penyeimbang. Meski hobi ini membuat saya harus merogoh kocek yang tidak sedikit, tapi kepuasan dalam menghasilkan karya fotografi melebihi kecintaan saya pada nasi goreng pedas. Kadang foto yang saya hasilkan hanya menjadi koleksi pribadi, namun dengan lantang saya tetap mengatakan PUAS...!!!&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Courier New;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Courier New;"&gt;Meski judul dari blog ini adalah cerita lensa, namun saya tetap akan membubuhkan ide pikiran dalam bentuk tulisan, mengingat keterbatasan waktu saya dalam merekam cerita lewat kamera.&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Courier New;"&gt;Tapi jika anda benar-benar ingin mengetahui hasil jepretan saya, maka silahkan berkunjung ke"rumah" saya yang lain: &lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Courier New;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Courier New;"&gt;&lt;a href="http://www.bumiarjo.deviantart.com/"&gt;www.bumiarjo.deviantart.com/&lt;/a&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Courier New;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Courier New;"&gt;Salam&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Courier New;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-family:Courier New;"&gt;Arif Pribadi&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4560282665706213002-4535276056822479845?l=ceritalensa.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://ceritalensa.blogspot.com/feeds/4535276056822479845/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4560282665706213002&amp;postID=4535276056822479845&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/4535276056822479845'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4560282665706213002/posts/default/4535276056822479845'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://ceritalensa.blogspot.com/2007/07/cerita-lensa-adalah-blog-pribadi-saya.html' title='TENTANG ceritalensa.blogspot.com'/><author><name>Portraits and Photo Story</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14863786762209787106</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
